Ribuan Umat Paroki St.Vitalis Mengikuti Perayaan Minggu Palma Dari Lempe Menuju Gereja.


Ruteng. Parokicewonikit.com – Minggu Palma, atau secara resmi disebut Hari Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan, adalah hari peringatan dalam liturgi Gereja Kristen, terutama Gereja-gereja Kekristenan Timur dan Gereja Katolik Roma, yang selalu jatuh pada hari Minggu sebelum Paskah. 

Pagi itu, Minggu 24/3/2024 mentari pagi kota Ruteng ibu kota Kabupaten Manggarai, sungguh cerah dan sangat bersahabat dengan umat yang akan mengikuti misa hari Minggu Palma di Paroki St. Vitalis Cewonikit Keuskupan Ruteng.

Berawal dari pemberkatan daun Palma yang dipusatkan di Rumah Gendang ( rumah adat ) Lempe dilanjutkan dengan prosesi perarakan menuju Gereja Paroki St. Vitalis Cewonikit Ruteng.

Ribuan orang mengikuti prosesi itu, yang terdiri dari puluhan biarawati dari enam komunitas biarawati, dan umat dari 8 wilayah yang tersebar dalam 45 Kelompok Basis Gerejani (KBG) dalam wilayah paroki itu memadati jalan sesuai route prosesi yang sudah ditetapkan panitia paskah 2024 tingkat Paroki Cewonikit, yang dipandu Ketua sie Liturgi Willy T.Jebeot.

Dalam arahan pembuka di teras rumah adat Lempe pastor Paroki Cewonikit Rm. Ardi Obot, Pr menyampaikan bahwa Hari Minggu Palma ini sebagai peringatan dan sekaligus mengenang sengsara Tuhan Yesus sebelum perayaan Paskah kita awali dari rumah adat ini.

Pemberkatan daun Palma di Halaman rumah gendang Lempe ( foto WG)

” Rumah adat ini mengawali peringatan sekaligus mengenang akan sengsara Tuhan sebelum perayaan Paskah pada beberapa hari kedepan ini, agar kita dapat melestarikan kearifan lokal akan tempat ini sebagai, Mbaru Bate kaeng, natas Bate labar, wae Bate teku dan compang bate takung. Ini sangat sinkron dengan arah pastoral Keuskupan Ruteng tahun 2024 yaitu Pada tahun 2024, Keuskupan Ruteng akan memfokuskan reksa pastoral pada Ekologi Integral. Kita ingin memperjuangkan harmoni universal antara manusia dan makhluk ciptaan serta antarsegala makhluk ciptaan yang hanya terjadi dalam harmoni dengan Sang Khalik ” katanya.

Umat paroki cewoniki memadati gereja Cewonikit ( foto WG )

Selanjutnya di Gereja Paroki Cewinikit dilaksanakan Misa Minggu Palma sesuai dengan tata perayaan Ekaristi Minggu Palma yang berlaku secara universal untuk gereja Katolik sejagat.

Dalam kotbahnya pastor Paroki Cewonikit menjelaskan tentang peristiwa itu ” Dalam Injil (Matius 21: 8, Markus 11: 8, Lukas 19: 36), tak ditemukan cerita tentang orang banyak mengelu-elukan Yesus menggunakan daun palma. Namun, dalam Kitab Yohanes 12: 13 menyebutkan penggunaan daun palma dalam peristiwa itu.

” Mama orang-orang muda para remaja dan anak-anak biarawan biarawati wilayah 4 yang telah menyiapkan dengan baik upacara di Lempe dan wilayah 6 dengan koor yang sangat bagus hari ini. Tidak ada khotbah yang panjang lebar, karena kita sudah mendengarkan tentang pengadilan yang dilakukan terhadap Yesus adalah semua berupa kesaksian palsu. Mari selalu rendah hati di hadapan Tuhan. Ini artinya, kita merendahkan diri supaya Tuhan selalu diagungkan sehingga berkat Tuhan mengalir secara melimpah untuk memenuhi hidup kita semua ” ajaknya.

Paduan suara wilayah V I ( foto WG)

Sejarah Minggu Palma
Masih mengutip dari berbagai sumber sebelumnya, sejarah dari Minggu Palma dimulai ketika peristiwa datangnya Yesus ke Yerusalem sebelum Ia disalibkan. Saat itu, Yesus menaiki keledai dan banyak orang mengelu-elukan-Nya dengan membawa daun palma.

Dikutip dari laman Catholic Culture, ibadah Minggu Palma ini berasal dari Kerajaan Franka. Dalam perkembangannya, ternyata tidak hanya menggunakan daun palma saja, namun beberapa negara menggunakan ranting maupun bunga.
Oleh karena itu, terbentuknya tradisi Minggu Palma ini berdasarkan pada Injil Kitab Yohanes.

Makna Minggu Palma
Perayaan Minggu Palma mempunyai makna untuk mengenang datangnya Yesus ke Yerusalem sebelum disalibkan dan dielu-elukan oleh orang banyak.
Penetapan Minggu Palma sebagai pembuka Pekan Suci berdasar pada pekan terakhir Yesus berada di Yerusalem.

Sedangkan makna daun palma yang dilambaikan, yaitu bentuk pujian kemuliaan atas kemenangan Yesus Kristus yang telah bangkit mengalahkan kematian.

Oleh sebab itu, saat ini daun palma juga bermakna sebagai bentuk pengingat umat Kristiani terhadap kemenangan Tuhan Yesus melawan kematian dan dosa.

Willy Grasias