Batu Yang Terguling ( Misa Malam III; Sr. Sesilindah, Imelda Ose Blikololong )

Ruteng. Parokicewonikit.com
Keluarga besar Suster Misi Abdi Roh Kudus (SSpS) Provinsi SSpS Flores Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) kehilangan Sr Sesilinda Blikololong, SSpS (85).

Sr Linda, SSpS, biarawati kelahiran desa nelayan Lamalera, Lembata, 10 Desember 1938, meninggal dunia di Rumah Sakit Santo Rafael Cancar, Manggarai, Flores, Rabu (3/1) pukul 06.55 WITA. Jenazah sudah dikuburkan pada tanggal 4/1/2024 di pekuburan Suster SSpS Ruteng.

“Seumur hidup, Sr Linda sebagai pemimpin saja. Baik magister novis, provinsial kemudian Dewan General SSpS di Roma, Italia, selama 12 tahun. Selama bertugas sebagai Dewan General SSpS di Roma, beliau mengunjungi para suster yang bertugas di berbagai komunitas SSpS di seluruh dunia,” ujar Sr Franselin, SSpS, Ketua Yayasan Santo Damian Cancar seperti dilansir Odiyaiwuu.com.

Minggu 7/1/2024 bertempat di Kapela biara Holly Spririt, Provinsi Flores Barat Leda Ruteng Kabupaten Manggarai Pulau Flores dilaksanakan Misa malam ketiga untuk mendiang almarhuma.

Misa dipimpin oleh pater John Nadem, SVD. yang dikuti oleh para suster dari berbagai komunitas suster SSpS yang berkarya di Keuskupan Ruteng, anggota PMRK, dan anggota KBG St. Yosef dan St. Anna Paroki St. Vitalis Cewonikit Ruteng.

Pater John Naben, SVD (foto WG )

Dalam kotbahnya pater John mengisahkan pengalaman pribadi dalam hubungannya dengan mendiang almarhuma semasa hidupnya.

Satu hari tanggal 14 September 2023 di Ruang Arnoldus, Rumah Sakit St. Rafael Cancar almarhuma meminta untuk berdoa agar cepat mati,

” Pater John. Doakan supaya saya cepat mati. Saya sangat menderita ” ungkap suster Sesilindah kepadanya.

Waktu itu Pater John dan beberapa konfrater sedang mengunjungi Almarhum P. Gallus Mittermaier, SVD. Bersebelahan dengan beliau, terkapar Sr. Sesilindah, Imelda Ose Blikololong, SSpS. Melihat kehadiran P. Oktovianus Obe, SVD dan Br. Antonius Kaba, SVD; dia mengungkap kerinduannya yang terdalam.

Sebagai John Naben, yang suka mengusik, saya mendekati almarhuma. Dengan watak dan perilaku sebagai seorang saudara baginya, saya elus-elus pipinya. Dia lalu tanya, ‘kau siapa?’ Jawabku, ‘saya John Naben’. ‘Pater ka?’, lanjutnya. Sr. Yuli Kolin, SSpS dan Sr. Lidia, SSpS, serentak menjawab, ‘Ia oma. Dia pater dari Novisiat Kuwu!’ Lalu almarhumah Sesilindah, bilang: “ohh..begitu”.

Demikian secuil kisah pater John bersama almarhumah memulai renungan pada Misa itu, selanjutnya imam Tuhan itu bertutur, selengkapnya berikut ini.

Hari ini, kita berkumpul untuk mendoakan keselamatan arwahnya. Sudah 3 hari ia berbaring di makam yang gelap, sunyi dan sepi. Dia sendirian. Tidak ada lagi yang harus menemaninya 24 jam seperti masa-masa pergulatannya di Cancar. Keheningan makam, kesepian kubur dan makam yang gelap, menjadi kefanaan dan duka kemanusiaan kita. Semua kita akan mengalaminya, hanya saat dan waktunya belum tiba.

Dalam situasi khaos yang seperti ini, mereka yang ditinggalkan, kita yang mengenalnya secara dekat, merasa iba, kasian dan merasa kehilangan. Namun di pihak yang lain, sebagai orang beriman yang percaya akan kebangkitan; anda, saya dan kita semua yakin bahwa kematian hanyalah diubah bukannya dilenyapkan.
Jika, Yesus yang kita imani hanya berakhir mati di kayu salib, maka anda dan saya pun akan mati.

Sr. Sesilindah, meninggal karena sakit. Dia meninggalkan kita dengan kerinduan besar untuk berjumpa dengan Sang Pemilik Kehidupan.

Tanggal 28 September 2023, merupakan perjumpaan kedua bersama Oma Sr. Sesilindah, SSpS. Waktu itu, dia sudah berpindah dari Ruang Arnoldus ke kamar pribadinya di Komunitas St. Rafael Cancar. Saat itu, saudari-saudari saya SSpS Cancar, melalui Mudernya, Sr. Mariana, meminta saya untuk memimpin perayaan Santo pelindung komunitas mereka.

Sehabis misa, saya menuju kamarnya. Saya menyalami dan memberi suapan roti. Sebelumnya, Oma Sisil, mengucap terima kasih atas, doa, berkat dan bekal komuni suci yang saya terimakan.

Dia bilang begini: ”Pater John, terima kasih banyak-banyak, Tuhan Allah memberkati Pater dalam segala pekerjaannya, supaya menjadi KUDUS juga saudara kami”.

Terenyuh dengan perkataanya itu, saya secara spontan mengangkat tangan kanannya dan memberi ciuman.

Ucapannya itu, memberi kesan dan doa seorang ibu yang tulus untuk anaknya.
Sesudah itu, dia mewasiatkan saya: “Pater John, kalau saya pergi, kau yang harus misa malam ketiga buat saya” Dan wasiat itu, sedang saya jalani.

Pada kesempatan ketiga dalam kunjungan saya, dia memohonkan doa dan pembekalan Minyak Suci.

Awal Oktober ’23, melalui pesan suara, dia bilang begini: Pater, nanti kalau Pater ada kesempatan atau waktu, tidak tinggalkan novis tapi tgl 04 Oktober, beri saya pengakuan dan Minyak Suci. Saat itu, fisiknya masih kuat. Memorinya berjalan normal dan wajahnya masih bersinar. Dia tahu, waktunya akan tiba. Dan supaya dia dan kita tidak dikejutkan seperti pencuri (Pencabut nyawa) akan nasib hidupnya, dia ingin mempersiapkan dirinya untuk bertemu Tuhan, dengan bekal suci, sebagai seorang katolik sejati.

Pada 04 Oktober itu, seperti yang dia jadwalkan, saya pergi medengarkan pengakuan dan memberi dia perminyakan suci untuk pertama kalinya.

Setelah itu, dengan gaya seorang anak laki-laki kepada ibunya, saya gemas pipinya, saya elus dahi dan menyisir rambutnya dengan jemari saya. Dia menatap dan dengan guyon, dia berkata: ‘ihhh, kau nakal sekali. Waktu saya muda kau tidak cubit dan elus-elus saya’ Lalu saya jawab; ‘Siapa suruh jadi cantik di masa tua seperti ini’ Kami berpelukan dan tertawa terbahak-bahak. ‘Tapi kau nakal yang baik. Kau cubit dan elus saya dihadapan orang banyak, dihadapan suster-suster saya. Jadi itu baik. Kalau kau cubit dan elus saya, di ruang kosong dan kalau tidak di depan orang lain, itu baru kau NAKAL’, lanjutnya menjelaskan pernyataan ‘nakal’ yang dia maksudkan.

Kedekatan dan persaudaraan Sr. Sesilindah dan saya, berlanjut. Tgl 31 Oktober 2023, saya diundang oleh komunitas St. Rafael Cancar untuk memimpin misa di sana karena salah seorang anggotanya merayakan Ulang Tahun dan Perutusan Misi Baru bagi Sr. Maria Ero, SSpS ke Bima.

Seperti biasa, saya selalu menyempatkan diri untuk membesuk mereka yang sakit, tak terkecuali Oma Sesilindah, SSpS. Saat saya masuk, dia tanya: ‘Kau siapa?’, ‘Coba terkah’, saya menjawabnya. Ketika saya mendekat sambil memberi gemasan di pipi kiri dan kanannya, dia bilang; ‘Pater John, kau selalu berubah-ubah’ Saya ledak tertawa dan dia pun ikut tertawa. Kami berpelukan dan memberi ucapan satu kepada yang lain.

Beberapa menit berlalu, dia minta untuk didoakan. Saya lalu berdoa dan memberi berkat di dahinya. Setelah doa, dia mengucap terima kasih banyak dan berujar: ‘kenapa tadi kau doa supaya saya sembuh?’ ‘Terus, saya harus doa bagaimana?’, saya bertanya. Jelasnya, ‘jangan doa supaya saya sembuh. Minta Tuhan supaya saya cepat mati saja. Saya sangat menderita. Saya tidak tahan sakit. Saya sudah pasrah. Lain kali, kau doa supaya saya mati lebih cepat’ .

Saya kemudian menatapnya dengan diam. Lalu Oma Sesilindah tanya, ‘Kenapa diam?’ Saya jawab: Oma, saya tidak bias paksa Tuhan. Untuk hidup dan mati seseorang, saya tidak tahu waktu dan saatnya. Yesus juga pasti tidak tahu. Yang tahu hanya Bapa Allah di surga. Saya tidak mau paksa Tuhan. Saya hanya bisa menjalankan tugas saya sebagai imam. Saya hanya bisa memohonkan kesembuhan dan kepulihan. Saya tidak bisa mengambil HAK Allah. Juga tidak berani mengucap kata ‘agar oma Sisil, cepat mati atau meninggal. Saya tidak mau durhaka. Kami masih mencintai Oma’. Mendengar itu, dia hanya bilang ‘oh bagitu ka! Tapi lain kali kau doa supaya saya cepat mati. Saya tantang oma dan bilang, untuk rayu Tuhan seperti itu, saya tidak bisa.

Mungkin tempat dan cara mati kita akan berbeda. Ada yang meninggal dalam sakit. Mati dengan cara ditabrak, jatuh dari pohon, dan lain sebagainya.

Dalam lukisan rindu dan kenangan bersama Sr. Sesilindah tadi, ada beberapa batu penutup kubur yang mengganjal dan belum terguling. Kecemasan saat sakit, kerinduan untuk tidak terlalu lama menyibukkan banyak orang, ketidak-sanggupan kita menahan derita, kebingungan bagaimana harus melampaui derita, sengsara dan lain sebagainya.

Itulah sifat kemanusiaan kita. Itu kelemahan dan kekurangan kita sebagai insan fana di dunia ini. Dalam dan melalui keyakinan iman, satu hal yang pasti bagi kita adalah semua manusia pasti mati.

Hanya Yesus saja satu-satunya Anak Manusia yang mati namun Ia bangkit atau hidup lagi untuk selama-lamanya.

Kebangkitan Yesus membuktikan kepada dunia dan kita bahwa Ia hidup. Dialah Anak Allah yang sejati, yang berkuasa atas dosa dan maut. Karena oleh kuasanya itu, saya yakin dan percaya bahwa Dia pulalah yang membangkitkan Oma, Mama, Kakak, Saudari dan kekasih kita Sr. Sesilindah, SSpS yang sedang kita doakan dan kita kenang pada Ekaristi Kudus ini.

Dalam bacaan Injil tadi, Markus menulis dan mengkisahkan bahwa setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Salome pergi ke kubur Yesus. Mereka hendak meminyaki tubuh-Nya dengan rempah-rempah. Namun, di tengah jalan mereka dilanda kebingungan.

Berkatalah mereka seorang kepada yang lain, “Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?” Menilik kekuatan mereka, walaupun ketiganya digabungkan, tidak cukup kuat untuk menggulingkan batu besar tersebut. Jelas ini sebuah persoalan besar.

Bagaimana mungkin mereka dapat meminyaki tubuh Yesus, sementara batu besar itu masih berada di sana

Menariknya, meskipun hati mereka bimbang, langkah kaki mereka tidak tertahan. Ajaib, begitu mereka tiba di sana, batu besar itu sudah tergulingkan!
Batu besar adalah seumpama persoalan dalam kehidupan kita. Persoalan memang terkadang memberatkan, namun bukan berarti kita menyerah begitu saja.

Sekalipun hati merasa berat, langkah kaki kita harus tetap maju mendekat kepada Sang Juru Selamat. Jikalau kuasa maut saja dipatahkan, apalagi “batu-batu” persoalan dalam kehidupan kita. Terus melangkah, terus mendekat, terus berharap, semua itu adalah bagian untuk kita lakukan.

Datang mendekat kepada Tuhan, maka lihatlah “batu-batu” persoalan itu kini sudah tergulingkan!

Seperti keyakinan dan kepercayaan, kesahajaan dan kerinduan terdalam dari Sr. Sesilindah, Imelda Ose Blikolong, SSpS, saat-saat merindukan pertemuan bersama Sang Pemilik Kehidupan dalam hari-hari terakhir hidupnya, telah mencerminkan keberaniannya untuk tidak ragu bersama para perempuan yang dilukiskan Markus untuk kita, saat ini, di sini.

Sr. Sesilindah, SSpS, telah taat melaksanakan kehendak Bapa dengan sempurna, sebagai Misionaris, Religius, Apostolik dalam Bunda Tarekat, SSpS maka ia dikasihi dan dibangkitkan juga pada hari ketiga ini.

Akhirnya saudara-saudaraku, yakinlah bahwa sebesar apa pun batu persoalan hidup kita, akan terguling begitu kita dating mendekat kepada Sang Juru selamat.

Willy Grasias

,