Inmemoriam; MIKAEL MEO, IMANMU TELAH MEMBEBASKAN ENGKAU

Sabtu, 29 Oktober 2022, pukul 10.36 sebuah pesan WA dari nomor tidak dikenal muncul di hp saya. Ketika saya buka, ada satu pesan pendek:
“Selamat siang Ade Marsel. Saya butuh engkau menjadi “Simon dari Kirene” di jalan salib hidupku yang sangat berat ini. Mohon maaf mengganggumu. Tuhan Yesus memberkatimu” (Kk Mikael Meo – Maumere).

Tidak lama berselang, muncul sebuah gambar yang mengejutkan. Mikael yang dulu sy kenal sebagai seorang laki-laki gagah perkasa, kini duduk di sebuah kursi roda dalam keadaan lunglai tidak berdaya dengan kaki bagian kanannya sudah diamputasi sampai mendekati lutut. Tubuhnya kurus sekali.

Langsung saja saya video call balik, dan mulailah percakapan kami yang lebih banyak berupa curahan hati terdalamnya, sesekali ia menangis tersedu-sedu dari seberang. Saya tidak kuasa menahan air mata.

“Ade, saya sedang menapaki jalan salib kehidupan saya yang sangat berat. Penyakit gula yang akut telah membuat salah satu kaki saya terpaksa diamputasi. Saya tidak terima Ade. Allah macam apa ini…. Sebagai pelayan sabdaNya selama 30 tahun baik sebagai guru agama Katolik di sekolah maupun katekis di paroki, saya tidak pernah berbuat hal-hal yang mengecewakanNya. Tetapi mengapa di saat-saat menjelang saya memasuki masa purnabakti, Allah memberikan cobaan seperti ini kepada saya? Apa salah saya……? dia melanjutkan; Ade, saya tidak kuat. Saya selalu melihat salib Yesus, bahkan berhari-hari mengikuti jalan salibNya di kamar, tapi saya sangat tidak kuat. Rapuh…… Saya hanya minta Ade dan teman2, bisakah kalian menjadi Simon dari Kirene, berjalan bersama saya, pikul salib saya cukup sejengkal saja jaraknya…….”

Foto bersama keluarga Anggelina Luang di Mbay ( foto A.L)

Saya terdiam. Lama…. karena ia tidak melanjutkan kata-katanya lagi, hanya menangis sejadi-jadinya dari seberang sana…..
Setelah itu kami dua terdiam beberapa saat.

“Kk Mikael, saya sangat prihatin dengan keadaan Kk. Saya dan teman-teman siap menjadi Simon dari Kirene. Siap. Kira-kira apa yang bisa kami lakukan?” Lagi-lagi ia menangis…

“Ade, saya butuh kaki palsu. Kaki dan tangan adalah kehidupan saya… kalau salah satu diantaranya tidak ada maka sebagian kehidupan saya juga sudah tiada. Mati. Itulah salib saya yang terberat. Saya ingin tetap berdiri di kelas mendampingi para siswa saya, ingin memimpin koor di gereja atau menjadi organis, ingin ke kelompok-kelompok untuk katekese. Dan karena itu saya butuh kaki. Salib bagi saya adalah ketika saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi seperti sedia kala. Saya sudah hubungi satu donatur di Jakarta, tapi ia hanya membantu kaki palsu saja, sementara saya harus ke Jakarta untuk pemasangan dan perawatan sekitar dua minggu. Saya harus ke sana dengan istri untuk menjaga saya. Kami sudah kumpulkan sedikit uang tetapi tidak cukup…..”

Segera setelah selesai percakapan video call kami, saya langsung menginformasikan ke grup WA kami, “Alumni KPK, APK, STKIP Ruteng”. Semua prihatin dan bersedia untuk urunan membantunya. Maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, terkumpullah uang yang dibutuhkannya.

Tiba-tiba Kk Desiderius Adol, salah satu staf di Panti Damian Cancar mengabarkan kepada saya bahwa ia sudah menghubungi Sr. Franselin SSpS, Ketua Yayasan Damian Cancar dan Sr. Franselin menyarankan agar Mikael tidak usah ke Jakarta. Kaki palsu dapat dipasang di RS Damian Cancar, di sini juga ada spesialis yang dapat membantu pemasangan dan perawatannya. Biayanya cukup untuk membeli kaki palsu, sedangkan biaya penginapan dan perawatan seluruhnya ditanggung Panti Damian.

Kabar ini segera saya sampaikan kepada Kk Mikael dan ia sangat senang…..
“Ade….. Tuhan jawab doa saya…. Tuhan jawab doa saya…. Terpujilah Dia….”

Tanggal 2 November 2022, Kk Mikael mengabarkan bahwa ia sudah berdiskusi dengan istrinya dan mereka sepakat untuk pasang kaki palsu di Cancar saja.
Tanggal 17 November 2022 Kk Mikael kirim pesan WA ke saya:
“Ade dan teman2 semua, terima kasih banyak berkat dukunganmu semua saya sdh tiba di Cancar setelah melewati perjalanan panjang dan melelahkan selama 13 jam dari Maumere – Cancar. Saya akan menjalani pemasangan kaki palsu dan perawatan.

Selama kurang lebih tiga bulan ia tinggal di Panti Damian sampai ia sudah bisa jalan menggunakan kaki palsu. Tanggal 6 Pebruari 2023, ia kembali ke Maumere. “Ade saya mohon pamit kembali ke Maumere.

” Saya sdh bisa berjalan dengan kaki palsu. Mohon maaf sy tidak bisa mampir ke rumah Ade karena hujan non stop trus di Ruteng”, begitu pesan WA-nya kepada saya.

Semenjak Pebruari 2022, Mikael selalu hadir sebagai penggembira di Grup WA Alumni APK/STKIP Ruteng. Hampir setiap hari, pagi-pagi buta, sudah muncul pesannya di grup berupa kata-kata mutiara, kutipan-kutipan KS, serta nasihat-nasihat peneguhan. Ketika siang atau malam tiba, dia hadir lagi bersoal jawab dengan Kk Tarsi Hurmali, KK Pice Naur, dll tentang iman dan pelbagai dimensinya.

Sejak Mei 2023, pesannya di WA Grup selalu disertai dengan foto wajahnya yang berkumis. Fotonya seolah sebagai template dan di bagian bawahnya tertera nasihat2 atau kutipan-kutipan KS.

Ketika mendengar bahwa akan ada acara khusus mengenang satu tahun kepergian Sr. Virgula Schmit SSpS di Panti Damian, Kk Mikael langsung menyatakan kesediaannya untuk hadir dalam acara yang digelar 25 – 27 Juni 2023 itu. Dan benar sekali, ia menepati janjinya. Tanggal 24 Juni malam ia mengabarkan kepada saya bahwa ia sudah di Damian, Cancar. “Ade tolong datang, kita ketemu di Cancar ya….” begitu pesan WA-nya.

Bersama keluarga Pit Naur ( foto PN)

Senin, 26 Juni 2023 saya datang mengikuti seminar bertajuk “Memaknai Ziarah Pembebasan Sr. Virgula SSpS bagi Pengembangan Panti Rehabilitasi Kusta/Cacat St. Damian Cancar”. Kami bertemu dan betapa gembiranya kami. Kk Mikael didapuk sebagai moderator kegiatan seminar itu dengan tiga orang pembicara: Rm. Dr. Martin Chen, Direktur Puspas Ruteng, Sr. Maria Yohana SSpS, Provinsial SSpS Flores Barat, dan Tarsi Hurmali, aktivis kemanusiaan. Sebagai moderator, Mikael tampil sempurna. Suaranya menggelegar, sangat impresif dengan tekanan-tekanan yang luar biasa. Ia mampu merangkum berbagai pikiran dan pendapat secara luar biasa. Bahkan ketika terjadi kemacetan teknis pada laptop Sr Maria Yohana yang tidak bisa tersambung ke layar LCD selama beberapa menit, Mikael tampil mengisi kefakuman itu dengan kesaksian-kesaksiannya baik tentang Sr. Virgula maupun kesaksian pribadinya sebagai seorang penderita disabilitas.

Almarhum bersama teman teman di St. Damian Cancar. (foto MRP)

Kesaksiannya sungguh merupakan cerminan dari penghayatannya akan makna penderitaan itu sendiri.
Hari Rabu, 28 Juni 2023, MIkael pamit kembali ke Maumere. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia sakit. Bahkan suara dan penampilannya benar-benar memperlihatkan bahwa ia telah sembuh. Kesan itu setidaknya dalam perjumpaan kami di Cancar.

Tiba-tiba pada hari Jumad, 30 Juni 2023 malam sekitar jam 19.00 Grup WA kami ramai dengan kabar bahwa Kk Mikael sedang dirawat di salah satu Puskesmas di Boawae, kondisinya sangat drop. Kabar itu datang dari istrinya kepada Sr. Franselin SSpS di Cancar. Kami berusaha untuk menghubungi beberapa teman di Boawae namun tidak bisa dihubungi, konon hujan lebat. Sekitar pukul 21.00 kami mendapat kepastian melalui Grup Alumni Seminari Yoh. Berkhmans Mataloko bahwa Mikael sudah berpulang, tepatnya di kampung halamannya di Solo Rowa, Boawae, Nagekeo. Ia meninggalkan 3 orang anak (dua putri dan satu putra) serta dua orang cucu dari putri pertama. Kabar ini sangat mengagetkan kami semua. Tapi itulah Mikael, ia menghayati penderitaannya dengan sukacita sampai pada akhir hayatnya. Ia telah mengajarkan bahwa penderitaan bukanlah kesia-siaan tetapi sebuah kesempatan untuk mendewasakan iman kepada Allah.

Kebersamaan di tempat Seminar dalam rangka satu tahun meninggalnya almh Suster Virgula.( foto MRP )

Dalam refleksinya ia melihat penderitaan adalah kesempatan untuk berjumpa dengan Allah dalam situasi yang otentik.
Sy baru kaget setelah mengecek hp saya pada nomor yang lain, ternyata pada hari Kamis, 29 Juni 2023 jam 17.31 MIkael menghubungi saya melalui video call, sayang saya tidak mengangkatnya. Apakah Kk Mikael ingin menyampaikan pesan terakhir?

Maafkan saya…. Selamat jalan Kk Mikael Meo… Terima kasih untuk berbagai pengalaman imanmu yang sungguh mempesona. Beriman kepada Allah dalam situasi penderitaan dan tapal batas.

Obituari ini saya tulis dari Labuan Bajo….. tepat pada hari pemakamanmu di Maumere 2 Juli 2023. RIP.

Redaksi/Marsel Ruben Payong