Quo Vadis, Domine?

Oleh : Primus Dorimulu

Quo Vadis, Domine? Artinya, Ke mana, Tuhan? Ini adalah cerita turun-temurun di luar Alkitab tentang dialog Petrus dengan Tuhan Yesus selepas gerbang Roma pada abad pertama, Masehi.

Agama Kristen menyebar ke berbagai penjuru bumi, antara lain, ke kota Roma setelah Pantekosta, saat Roh Kudus turun atas para rasul. Ada rasul yang melakukan penyiaran ke sekitar Jerusalem, ada yang ke Libanon, Suriah, hingga Eropa Timur. Ada yang ke Mesir dan ke Asia. Petrus memilih ke Roma dan seterusnya menyebar ke Eropa Barat. Roma hingga kini menjadi pusat Gereja Katolik.

Sejarah menulis kekejaman Kaiser Nero (54-68 M) terhadap orang Kristen. Mereka dipanggang, digoreng, dan diadu dengan banteng dan singa di koloseum untuk menghibur Kaiser. Kaiser

Anak Domba Allah

Yesus disebut Anak Domba Allah.
Anak Domba yang diserahkan kepada manusia untuk dipersembahkan kepada-Nya demi keselamatan seluruh umat manusia.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3: 16)

Yesus disebut Anak Domba Allah. Jika pada pada Perjanjian Lama, yang dipersembahkan benar-benar domba, pada Perjanjian Baru, yang dipersembahkan adalah Yesus, sang Putra Allah.

Ketika hendak meninggalkan Mesir untuk menghindari kekejaman Firaun, umat Israel makan domba muda dan roti tidak beragi.

Paskah bagi orang Yahudi adalah peringatan akan keluarnya leluhur mereka dari negeri Mesir di bawah pimpinan Musa. Paskah artinya Tuhan lewat. Tuhan lewat untuk membunuh semua anak sulung, binatang maupun manusia.

Agar tidak ikut terbunuh, darah anak domba yang dipotongkan orang Israel disilangkan di jenang pintu. Setiap merayakan Paskah, orang Yahudi makan anak domba dan roti tidak beragi.

Jauh sebelum Musa, domba sudah menjadi korban. Sebagai pengganti Ishak, putranya, Abraham mempersembahkan domba kepada Allah.

Sepanjang Perjanjian Lama, yang dipersembahkan kepada Allah adalah anak domba. Orang Yahudi memiliki ritual mempersembahkan anak domba di Bait Allah. Kematian Yesus di atas salib bertepatan dengan saat korban petang yang dilakukan di Bait Allah.

Dalam Perjanjian Baru, Yesus sendiri yang menjadi Anak Domba yang diberikan Bapa untuk kita persembahkan kepada-Nya.

“Lihatlah, Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” (Yohanes 1:29)

Kalimat itu dilontarkan oleh Yohanes Pembaptis kepada orang banyak saat melihat Yesus datang menghampirinya.

Semua yang dijalani Yesus selama balada penyaliban sudah diramalkan para nabi pada Perjanjian Lama. Hidup Yesus, lahir hingga kematian dan kebangkitan-Nya, sudah dinubuatkan para nabi. Penyaliban Yesus adalah pemenuhan nubuat para nabi.

“Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.” (Yesaya 53:7)

Selamat menyambut Paskah

Penulis adalah wartawan senior, alumnus APK Ruteng, tinggal di Jakarta