Peran Yudas dalam Karya Keselamatan

Oleh : Primus Dorimulu

Yudas Iskariot adalah pengkianat. Murid yang mengkianati Guru-nya. Inilah pandangan umum tentang pemegang kas Yesus dan para murid-Nya.

Apa pun penafsiran orang —baik umat yang percaya maupun yang tidak—, yang pasti Yudas adalah murid yang diam-diam menemui para imam kepala untuk mendapatkan uang dengan menjual jasa sebagai penunjuk jalan untuk menangkap Yesus.

Melihat latar belakangnya sebagai murid Yesus dengan posisi sebagai pemegang kas atau kerennya kepala keuangan (chief executive officer —CFO), Yudas adalah orang kepecayaan Yesus. Tidak mungkin pengelolaan uang disarahkan kepada orang yang tidak jujur dan tidak becus kelola duit.

Juga sebagai orang yang dekat dengan Yesus, Yudas tentu punya pandangan sendiri tentang Yesus. Ia melihat bagaimana Yesus mengajar dengan penuh pesona, menghalau para pedagang yang berjualan di Bait Allah, menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati.

Sebagai orang Yahudi yang menunggu datangnya Mesias, kemungkinan besar, ia punya keyakinan bahwa Yesus adalah Mesias yang mendirikan kerajaan duniawi, jauh lebih besar dari Kerajaan masa Daud dan Salomo. Sebagai Mesias, dia yakin, Yesus tidak mungkin bisa ditangkap, apalagi dibunuh.

Diam-diam, naluri bisnisnya berbisik, “Saya bisa mendapatkan banyak uang dengan menunjuk di mana Yesus berada. Yesus tak akan mungkin bisa ditangkap. Sebaliknya, inilah momentum Yesus menunjukkan kekuasaan sebagai Mesias yang memiliki kerajaan duniawi. Sambil menunggu posisi Menteri Keuangan pada pemerintahan Yesus kelak, saya bisa lebih dahulu mendapatkan uang.”

Oleh karena itu, setelah menerima uang “tiga puluh” perak dari para imam, Yudas bergegas menemui pasokan Romawi untuk pergi menangkap Yesus yang sedang berdoa di Taman Getsemani. Yesus selalu menyepi di Lembah Bukit Zaitun ini. Sebagai murid, Yudas sudah sangat paham.

Simaklah penggalan Injil Matius

14 Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala.
15 Ia berkata: “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya.
16 Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.
17 Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepadanya dan berkata: “Di mana engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagimu?”
18 Jawab Yesus: “Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktuku hampir tiba; di dalam rumahmulah aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-muridku.”
19 Lalu murid-muridnya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.
20 Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu.
21 Dan ketika mereka sedang makan, ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan aku.”
22 Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepadanya: “Bukan aku, ya Tuhan?”
23 Ia menjawab: “Dia yang bersama-sama dengan aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan aku.
24 Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.”
25 Yudas, yang hendak menyerahkan dia itu menjawab, katanya: “Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya: “Engkau telah mengatakannya.”
(Matius 26: 14-25)
——
47 Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi.
48 Orang yang menyerahkan dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: “Orang yang akan kucium, itulah dia, tangkaplah dia.”
49 Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: “Salam Rabi,” lalu mencium dia.
50 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Hai teman, untuk itukah engkau datang?” Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkapnya.
(Matius 26: 47-50)

Setelah Yesus ditangkap, dihadapkan kepada Hanas dan Kayafas, imam agung Yahudi, dibawa ke Pilatus dan dijatuhi hukuman mati, Yudas mulai goyah dan sangat terguncang oleh kesedihan dan penuh penyesalan. Ia tidak lagi melihat Yesus menjadi raja duniawi. Harapannya sirna. Ia tidak tega dan rela Yesus, Guru, dan figur yang dicintainya dianiaya. Hati hampa: untuk apa uang dan kekayaan?

Sebagai wujud tobat, Yudas memutuskan untuk mengembalikan uang tiga puluh keping itu. Ia sungguh menyesalkan perbuatannya dan berusaha untuk ke bai menunjukkan cinta-Nya kepada Yesus. “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” kata Yudas.

Simaklah Injil Matius selanjutnya.

1 Ketika hari mulai siang, semua imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi berkumpul dan mengambil keputusan untuk membunuh Yesus.
2 Mereka membelenggu dia, lalu membawanya dan menyerahkannya kepada Pilatus, wali negeri itu.
3 Pada waktu Yudas, yang menyerahkan dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua,
4 dan berkata: “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” Tetapi jawab mereka: “Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!”
5 Maka iapun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri.
6 Imam-imam kepala mengambil uang perak itu dan berkata: “Tidak diperbolehkan memasukkan uang ini ke dalam peti persembahan, sebab ini uang darah.”
7 Sesudah berunding mereka membeli dengan uang itu tanah yang disebut Tanah Tukang Periuk untuk dijadikan tempat pekuburan orang asing.
8 Itulah sebabnya tanah itu sampai pada hari ini disebut Tanah Darah.
9 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: “Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel,
10 dan mereka memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk, seperti yang dipesankan Tuhan kepadaku.”
(Matius 27:1-10)

Setelah mengembalikan uang kepada para imam, Yudas pergi menggantung diri (Matius 27:5). Ada yang mengatakan bahwa ia mati bunuh diri. Versi Kitab Para Rasul 1:18 menyebutkan, Yudas setelah membeli sebidang tanah, ia jatuh tertelungkup, perutnya terbelah, dan isi perutnya terburai.

Apa pun cerita lisan di luar Injil tentang Yudas, yang pasti dia sudah bertobat. Yudas sudah memberikan peran dalam karya keselamatan, yakni “sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus.”

Tidak ada dosa yang tidak bisa diampuni kecuali dosa melawan Roh Kudus. Dosa melawan Roh Kudus adalah sikap manusia yang tidak mau bertobat. Semua orang yang bertobat dan mohon ampun, Yesus akan mengatakan, “Hari ini juga engkau berada bersama saya di Firdaus Abadi.”

Surga adalah hak prerogatif Yang Mahakuasa

Penulis adalah Wartawan Senior, alumnus APK Ruteng, tinggal di Jakarta