LIHATLAH, AKU TUHAN DAN GURUMU MEMBASUH KAKIMU

Oleh : Primus Dorimulu

Membasuh kaki orang lain  adalah perbuatan para hamba dan justru hal itulah yang dilakukan Yesus. Ia tidak hanya mengajarkan pentingnya melayani sesama, melainkan juga  memberikan contoh nyata melayani. Jika  seseorang ingin menjadi yang terbesar hendaklah ia bersedia menjadi yang terkecil dan menjadi pelayan bagi sesamanya.

Malam ini (06/05/2023), umat Kristen merayakan Kamis Putih. Satu dari Trihari Suci. Dua hari suci lainnya adalah Jumat Agung dan Sabtu Suci.

Sedang pekan ini disebut pekan suci karena sepanjang minggu ini umat beriman mengenang dan merenungkan  peristiwa suci: misteri  sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus dari alam maut. Disebut misteri iman karena tak satu pun umat beriman yang bisa memahami peristiwa keselamatan ini.

Pada malam Kamis Putih ini, ada sejumlah peristiwa penting yang diperingati dan direnungkan umat Kristen, khususnya umat Katolik di seluruh dunia.  Liturgi Gereja ini sudah berlangsung lebih dari 2.000 tahun.

Pertama, Yesus memberikan contoh melayani sekaligus menekankan pentingnya melayani sesama sebagai salah ciri khas Murid-Nya.

“Kamu menyebut Aku Guru  dan Tuhan,  dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi,  jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; (Yohanes 13:13-14)

Lebih lanjut, kata Yesus, “…sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.   (Yohanes 13:15)

Semua aktivitas manusia berhubungan dengan tindakan melayani, mulai dari melayani diri sendiri agar tidak menjadi beban bagi orang lain, melayani orang yang dekat dengan hidup kita, hingga  melayani sesama kita yang lebih luas. Melayani tidak saja dilakukan dalam konteks pekerjaan, kegiatan sosial, melainkan juga kegiatan bisinis, dan penyelenggaraan negara.

Selama ini, melayani terkesan hanya untuk kegiatan keagaman dan pekerjaan di bidang kesehatan dan perusahaan jasa. Sesungguhnya, semua pekerjaan adalah melayani. Perusahaan melayani nasbah, pelanggan, atau konsumen. Birokrasi melayani rakyat dan dunia usaha. Anggota dewan melayani konstituen. Polisi sebagai penjaga kamtibmas dan penegak hukum melayani masyarakat. Jaksa dan hakim melayani pihak yang mencari keadilan.

Memimpin adalah melayani, bukan sebaliknya. Pemimpin yang selalu minta dilayani adalah pemimpin bermental feodal. Di era modern, masyarakat membutuhkan pemimpin yang melayani.

Kedua, pentingnya Ekaristi.  Sesuai tradisi Yahudi, Yesus merayakan Paskah bersama ke-12 Murid-Nya. Mereka disiapkan roti tidak beragi dan anggur. Tentu juga domba muda untuk memperingati keluarnya bangsa Israel dari negeri Mesir.

Namun, pada acara makan malam itu, Yesus mengunjukkan roti dan mengatakan, “Inilah Tubuh-Ku.” Lalu mengangkat piala berisi anggur sambil berkata, “Ini adalah darah-Ku.” “Lakukan ini sebagai kenangan akan Dayu.

“Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya   dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku. Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: Cawan ini adalah perjanjian baru  oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.” (Lukas 22: 19-20)

Kisah Perjamuan Terakhir (Last Supper) adalah sebuah kisah bersejarah dan sangat penting dalam kehidupan umat yang percaya. Karena dalam perjamuan ini, Yesus menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya sebagai santapan manusia.

Begitu menariknya kisah Last Supper, seniman Leonardo da Vinci pada abad ke-15 membuat  lukisan indah yang kini tersebar ke seluruh penjuru dunia. Dalam lukisan itu, Leonardo menempatkan posisi setiap rasul sesuai dengan pemahamannya terhadap Alkitab, tentu juga sesuai imajinasinya.

Pada santapan malam itu,  Yesus menyebutkan “clue” ada seorang dari 12 rasul-Nya yang akan menyerahkan Dia kepada pasokan Romawi. “… Yesus tahu siapa yang akan mengkhianati Dia. Itu sebabnya, Dia berkata, “Tidak semua dari kalian bersih. (Yoh 13:11)

Ekaristi adalah sakramen mahakudus, sakramen paling kudus di antara tujuh sakramen yang ada di tradisi Gereja Katolik. Karena dalam perayaan Ekaristi, Tuhan hadir dalam rupa roti dan anggur. Pada saat  konsenkrasi (consecratio —Latin), rati dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Daerah Yesus. Yang tampak mata adalah roti dan anggur, tapi sesungguhnya adalah Tubuh dan Darah Tuhan.

Konsekrasi adalah saat imam mengucapkan “Inilah Tubuh-Ku dan Inilah Darah-Ku”. Inilah kalimat terpentung yang diucapkan imam sambil mengunjukan hosti dan piala berisi anggur.

Ekaristi adalah Yesus Kristus sendiri. Karena itu, Ekaristi menjadi ‘jantung’ dari iman Katolik. Ekaristi merupakan “sumber dan puncak dari seluruh kehidupan Kristiani”.  Ekaristi adalah sarana menuju keselamatan dan kehidupan kekal.

“Setiap orang yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku memiliki hidup kekal, dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” (Yoh  6:54)

Pada ayat selanjutnya, Yesus mengatakan, “…daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.” (Yoh 6:55) “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yoh 6:56).

Ketiga, pada Kamis Putih, umat beriman diingatkan akan pentingnya Sakramen Imamat dan peran para imam. Pada malam Perjamuan Terakhir, Yesus memberikan kepada para rasul-Nya  kuasa untuk mempersembahkan kurban Tubuh dan Darah-Nya. “… Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Luk 22:19). Dengan demikian, Yesus memberi mereka kuasa untuk mempersembahkan kurban  yang sama itu dalam perayaan Ekaristi.

Para rasul menerima kuasa dari Kristus sendiri: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21). Yesus memiliki kuasa yang penuh. Ia datang dari Allah dan Ia adalah Allah. Yesus  adalah Sang Imam Agung dan Pengantara yang menebus dosa-dosa kita melalui jasa pengorbanan-Nya di kayu salib. (I Timotius  2:5 dan Ibrani. 5: 1-10).

Disebut Kamis Putih karena pada malam ini  diperingati  sejumlah peristiwa suci, yakni Perjamuan Suci yang melahirkan Sakramen Ekaristi dan Sakramen Imamat.

Juga pada malam ini, umat beriman mengenang peristiwa Yesus membasuh kaki para Murid-Nya. Umat beriman diingatkan untuk hidup saling melayani. “Jika Aku, Tuhan, dan Gurumu membasuh kakimu,  maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu.”

Selamat merayakan Hari Kamis Putih.                 

Penulis adalah Wartawan alumnus APK Ruteng Tinggal di Jakarta.