Komunitas Elisabet Ministry Jakarta Sambangi Biara Biara di Ruteng Flores

Ruteng. parokicewonikit.com – Kota Ruteng adalah salah satu kota yang berada di bagian barat pulau Flores, tepatnya di Kabupaten Manggarai, NTT. Kota ini telah ditetapkan menjadi ibu kota Kabupaten Manggarai sejak daerah ini dibentuk menjadi sebuah kabupaten pada tahun 1958. Kota kecil yang memiliki luas sekitar 72,64 km² dikenal sebagai kota paling indah dengan desain bangunan kebanyakan bergaya Eropa.

Mendapat julukan kota dingin, karena letaknya yang berada di bawah kaki pegunungan Mandosawu, hawa di kota ini sungguh berlawanan dengan kota-kota lainnya di Flores, dingin, sejuk, dan asri..

Kota Ruteng yang rapih dan bersih, selain diapit oleh banyak pegunungan hijau di kiri kanan, wisatawan yang datang ke sini baik baik untuk berwisata alam dan juga religi, semakin dimanjakan karena hampir seluruh jalan di ruteng bebas dari macet.

Di tengah-tengah kota terdapat sebuah bangunan Katedral yang cukup megah dan indah serta beberapa gereja lainnya diantaranya gereja paroki St. Vitalis Cewonikit dan gereja Kristus Raja Mbaumuku, tempat di mana umat Kristen Katolik melaksanakan ibadah.

Mayoritas penduduk di kota ini beragama Katolik. Namun di daerah ini juga terdapat dua masjid, satu pura, satu gereja umat Kristen Protestan, dan juga beberapa rumah adat tempat melaksanakan ritual adat untuk mengormati para leluhur orang Manggarai.

Meskipun mayoritas penduduk di kota ini beragama Kristen Katolik, kerukunan dan toleransi di tempat ini sangat terjaga. Salah satu hal yang memicu munculnya sikap toleransi ini ialah sebab para pemimpin gereja Katolik saat kuliah di Perguruan Tinggi dibekali oleh ilmu perbandingan agama, sehingga mereka memhami apa yang boleh dan tidak pada setiap agama dalam membangun toleransi yang positip, kecuali itu kebudayaan masyarakat Manggarai secara umum yang menjunjung tinggi budaya sopan santun dan menjujung tinggi segala perbedaan yang ada dalam masyarakat.

Selain memiliki hawa dingin dan sejuk, Ruteng juga memiliki banyak biara Katolik, sebuah rumah pertapaan bagi para biarawan dan biarawati Katolik atau yang sering disebut suster, pastor, frater atau bruder.

Sepanjang perjalanan di sisi kanan dan kiri, banyak sekali bangunan Biara. Hanya berjarak sekitar 50 hingga 100 meter lagi-lagi kita jumpai biara dari berbagai kongregasi religius Katolik. Saking banyaknya sungguh susah dihafal.

Dan karena begitu banyaknya biara itu, orang-orang menyebut Ruteng sebagai Kota Seribu Biara, sebenarnya jumlah biara tak sampai seribu, tetapi untuk kota sekecil Ruteng (7.136,4 km²) berdiri lebih dari 52 komunitas biarawan/biarawati dari bermacam kongregrasi religius berbagai negara di belahan dunia. Dan masing-masing kongregasi bisa memiliki lebih dari 1 komunitas biara. Jadi cukup pas jika menyebutnya sebagai Kota Seribu Biara.

Dari sejumlah biara itu delapan diantaranya terdapat di Paroki St. Vitalis Cewonikit yaitu; biara SSPS AP, Compasionis, Dominikan dari Pompei, SSPS Provinsi Flores Barat, Putri Renya Rorasi (PRR) dan Lambung Kudus serta satu rumah untuk para para imam projo keuskupan itu yang sedang mengalami gangguan kesehatan ialah Maria Vianey Residensi.

Kedelapan biara ini tak luput dari perhatian dari Kelompok Kategorial Elisabet Ministry yang sejak tanggal 28 sampai dengan 30 Maret 2023 melaksanakan kegiatan pelayanan dan bakti social di Paroki St. Vitalis Cewonikit Ruteng.

Pada tempat biara biara kesembilan utusan dari Elisabet Ministry Jakarta itu disambut hangat penuh simpati oleh pimpinan biara dan semua penghuni biara. Di rumah Maria Vianey Resindensi Romo Karolus Mbombo menyampaikan ucapan terima kasih atas kunjungan para hamba Tuhan itu.

“ Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan yang penuh simpati dari kelompok Elisabet Ministry ini, bagi kami kunjungan ini merupakan doa yang terindah bagi bagi kami, agar kesehatan kami cepat pulih dari sakit yang kami alami, sehingga secepatnya kami bisa melayani umat lagi “ kata imam yang sedang dalam pemulihan dari sakit bersama dua rekannya.

Pada kesempatan itu Ibu Evrydawati Saragih, Koordinator Divisi 3 Elisabet Ministry menyampaikan kesannya mewakili kelompok Elisabet Ministry saat mengunjungi sungguh sangat senang, lagi pula para susternya ramah dan penuh kasih menerima mereka.

“ Kesan saya saat mengunjungi 8 biara yang ada di Cewonikit, Senang, kapelnya bagus2, susternya saat kami berkunjung juga sangat baik dan penuh kasih. Kami juga bersyukur karena diberi kesempatan berdoa di kapel masing2 biara “ kesannya

Lebih lanjut wanita  berdarah Batak itu berkata,  ada perbedaan yang cukup signifikan antara biara lokal dengan biara dari luar negri, baik dari ukuran, dekorasi dan interiornya, sambil berharap biara2 lokal dapat memiliki fasilitas yang juga baik bahkan sangat baik.

Terkait membantu kebutuhan para suster dan umat sekitar biara, dia menyarankan agar pekarangan difungsikan maksimal seperti tanaman sayur mayur, kolam ikan, juga buah2an yang dihatapkan dapat dijadikan salah satu sarana untuk juga menambah modal biara dan menjadi alternatif income umat di Ruteng.

“ Saya menyarankan agar pekarangan difungsikan maksimal seperti tanaman sayur mayur, kolam ikan, juga buah2an yang dihatapkan dapat dijadikan salah satu sarana untuk juga menambah modal biara dan menjadi alternatif income umat di Ruteng “ sarannya.

Sejalan dengan kesan ibu Evrydawati Saragih, hampir semua anggota Elisabet Ministry sungguh mengalami suatu peristiwa luar biasa, kesan mendalam dan indah.

“ Bagi kami Komunitas Elisabeth Ministry, yg diberikanNya kesempatan utk mewartakan kasihnya kepada umatNya di Ruteng khususnya di paroki St. Vitalis Cewonikit Ruteng NTT “ tutup Ibu Janny Melianan sang coordinator.

Flores selain terkenal dengan tempat wisata yang mendunia dengan ditetapkan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata prioritas oleh Pemerintah Republik Indonesia, Kota Ruteng juga memiliki sejumlah destinasi wisata alam yang sering kali dijuluki kepingan surga yang jatuh ke bumi di timur Indonesia.

Ruteng menjadi salah satu tujuan untuk menikmati panorama alam indah pada provinsi di sebelah Timur Indonesia yang patut ditelusuri sambil melayani dalam kegiatan rohani bisa juga untuk melepaskan diri sejenak dari penatnya suasana kehidupan perkotaan.

Salah satu destinasi wisata unik yang harus kalian kunjungi di kota ini yaitu Sawah Lodok Cancar. Ya, sawah di lokasi ini berbentuk seperti jaring laba-laba atau yang dinamakan lodok dalam bahasa lokal.

Bentuk sawah yang menyerupai jaring laba-laba tersebut merupakan tradisi adat masyarakat Kabupaten Manggarai dalam hal pembagian lahan sawah dan kebun yang disebut dengan lingko. Lingko adalah tanah adat yang dimiliki bersama dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan bersama. Untuk menikmati panoramanya bisa datang ke Desa Cancar yang berjarak 45 menit dari Ruteng.

Redaksi/WG