Paroki St. Yosef Pekerja Lengkong Cepang Adakan Kegiatan Penguatan Karakter dan Spiritualitas Guru

Ruteng. parokicewonikit.com – Paroki St. Yosef Pekerja Lengkong Cepang mengadakan kegiatan penguatan karakter dan spiritualitas bagi para guru dan tenaga kependidikan. Peserta yang hadir dalam kegiatan ini berjumlah kurang lebih 150 orang dari TK hingga Sekolah Menengah. Kegiatan ini dibagi atas dua sesi: pertama, Refleksi tentang Sekolah sebagai Komunitas Peradaban yang Berkarakter dibawakan oleh RD Frans Nala, Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Ruteng; kedua, tentang Perlindungan Anak oleh RD Marthen Jenarut. Semua guru/tenaga kependidikan yang mengikuti kegiatan ini tampak amat senang dan antusias. Demikian release yang disampaikan oleh RD. Erick Ratu, Pr. yang diterima parokicewonikit.com.  

Kegiatan penguatan karakter dan spiritualitas guru ini dilakukan atas kerja sama Komisi Pendidikan dan Komisi JPIC-MP Keuskupan Ruteng dengan Paroki St. Yosef Pekerja Lengkong Cepang. Pada hari Jumat (17/3/2023), Bagi para guru/tenaga kependidikan, kegiatan bersama ini dinilai penting karena menjadi kesempatan penyegaran motivasi dan pembaruan komitmen. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi momen refleksi terkait proses penanaman nilai dan pembentukan karakter peserta didik di sekolah. Dalam konteks ini, para guru diajak untuk membangun sekolah sebagai komunitas peradaban yang berkarakter kristiani, inklusif, dan adaptif.

RD Frans Nala, Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Ruteng ( foto RD.Erick )

Dalam presentasinya, RD Frans Nala, mengajak para peserta untuk melihat kembali perjalanan karya pendidikan di Keuskupan Ruteng dalam kaca mata Sinode III dan hasil survey pastoral tahun 2021. Ia mensinyalir adanya kemerosotan nilai-nilai kristiani di sekolah dan perilaku kekerasan baik secara fisik maupun secara verbal. Ini terjadi karena adanya perubahan mental dan gaya hidup dalam diri seluruh insan pendidikan di sekolah, baik para siswa maupun para guru dan tenaga kependidikan.

 “Internalisasi nilai-nilai iman dan moral kristiani perlu dilakukan secara sistematis, terencana, dan terorgansir. Hal itu dapat dibuat dalam bentuk pengajaran, pelatihan, pembiasaan, keteladanan, sugesti (pengaruh), dan lain-lain”. katanya.

RD Frans melanjutkan bahwa “arah dasar dari pastoral pendidikan di Keuskupan Ruteng adalah pembentukan pribadi yang utuh, manusiawi, dan beriman/berkarakter kristiani. Supaya hal itu terwujudnya, maka perlu dibangun ekosistem sekolah yang baik, kondusif, dan berkarakter. Untuk itu, kita perlu belajar dari sekolah kemuridan Yesus. Ia memanggil dan membentuk para murid-Nya sebagai communio dalam semangat persaudaraan.

“ Pedagogi yang dikembangkan Yesus amat konkret. Ia mengajar dengan perbuatan, dan itulah yang menjadikan Yesus sebagai pengjar yang berwibawa dan berintegritas. Ia juga mengenal para murid-Nya secara pribadi dan mengetahui kebutuhan mereka masing-masing. Sang Guru Agung inilah yang menjadi model dan inspirasi bagi kita para guru dalam mewujudkan sekolah sebagai komunitas peradaban “ lanjutnya.

RD Marten Jenarut sedang membawakan materi tentang “Perlindungan Anak dan Hak-hak Dasar Anak” ( Foto RD, Erick Ratu )

Dalam sesi kedua, RD Marthen Jenarut menyoroti aspek perlindungan anak, secara khusus perhatian terhadap hak-hak dasar anak dalam proses pendidikan, yakni hak hidup, hak perlindungan, hak tumbuh-kembang, dan hak berpartisipasi. Sikap dan tutur kata kita terhadap anak-anak menjadi bagian integral dari proses pembentukan karakter.

“Kekerasan terhadap anak tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara verbal, kekerasan seksual dan penelantaran anak. Para guru mesti memperhatikan pemenuhan hak-hak dasar anak. Apakah sekolah kita sudah menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak untuk belajar? Pemenuhan hak-hak dasar anak menjadi salah satu kriteria sekolah sebagai komunitas peradaban”. Sorotnya.

Pastor Paroki Lengkong Cepang, RD Adrianus Gaut, dalam sambutannya membuka kegiatan ini menggarisbahwahi pentingnya penguatan karakter dan spiritualitas bagi para guru karena guru merupakan pelaku perubahan sosial dan obor bagi masyarakat.

“Kalau mau sekolah kita menjadi sekolah berkarakter, maka kita sebagai guru harus memiliki karakter yang baik. Sebab para guru menjadi model atau teladan bagi anak-anak”. Untuk itu, kegiatan ini akan menjadi agenda rutin tahunan di Paroki Lengkong Cepang” tegasnya..

Ia pun mengucapkan terima kasih kepada RD Frans dan RD Marthen atas materi-materi yang inspiratif yang sungguh membantu para guru dalam memaknai kembali karya pelayanan mereka dalam dunia pendidikan.

Salah seorang peserta, Aleksius Jehadut, Kepsek SDN Wae Togo, mengapresiasi kegiatan ini. Kegiatan bersama para guru seperti ini baru pertama kali dibuat di paroki ini. Ini memotivasi kami agar menjalankan tugas dengan semangat pelayanan dan pengabdian.

“Kami berharap, kegiatan ini terus dilanjutkan, bahkan cakupannya lebih luas dengan umat yang lain. Sebab tema tentang karakter menjadi perhatian dan keprihatinan semua orang, bukan hanya para guru di sekolah, tetapi juga keluarga-keluarga dan masyarakat”. harapnya.

Redaksi/WG

,