Pastor Paroki Cewonikit bersama Pastor Rekan Melayani Pengakuan Pada KBG Dalam Wilayah Paroki Selama Sepekan

Ruteng. parokicewonikit.com – Misa kunjungan prapaskah yang diprogramkan Paroki St. Vitalis Keuskupan Ruteng diawali Senin, 13/3/2023 secara bersamaan untuk enam Kelompok Basis Gerejani ( KBG ) dalam wilayah Paroki Cewonikit’

Kegiatan ini merupakan aktifitas persiapan Paskah Tahun 2023 sebagai bagian dari Aksi Puasa Pembangunan ( APP ) tahun 2023. Untuk 44 KBG dalam wilayah Paroki yang dilayani oleh enam orang Iman yang terdiri dari Pastor Paroki Cewonikit RD. Ardi Obot bersama Pastor rekan dari komunitas Sekolah Tinggi Pastoral St. Syrilus Ruteng yaitu. RD. Ardus Jehaut, Pr, RD. Videlis Den, Pr, RD. Hironimus Bandur, Pr. RD Eman Haru, Pr dan Ketua Komisi Kesehatan Puspas Keuskupan Ruteng RD. Pepi Bora, Pr.

Para suster Domikan dari Pompei berbaur bersama umat di KBG Sta. Elisabet ( foto WG )

Kegiatan perdama Senin 13/3/2023 untuk KBG St. Yohanes Perintis, KBG Sta Elisabet, KBG St. Mikael, KBG St. Yosef, dalam Wilayah VII dan KBG Sta Angela Lempe 5 serta St. Yohanes Vianey Lempe 8 dalam wilayah VIII Paroki Cewonikit.

Seperti disaksikan parokicewonikit.com di Kelompok St. Yosef Wilayah VII imam yang melayani ialah RD. Hiro Bandur, Pr setelah melayani Sakramen tobat untuk puluhan umat dalam KBG itu, dilanjutkan perayaan Ekaristi.

Dalam kotbahnya yang terpatri dengan topik “Saling Menghargai: Kekuatan  Masa Kini dan masa Depan  Gereja” imam Tuhan yang kesehariannya bertugas di Lembaga calon pewarta awam gereja ini mengupas tuntas tentang Yesus Kristus yang berkarya di tengah masyarakat Yahudi dua ribu tahun lalu yang diulas dari bacaan malam itu Luk 4:24-30

Kata dia, gambaran pemahaman tentang Gereja masa lalu, sungguh berbeda yaitu masa sebelum Konsili Vatikan Kedua yaitu gereja adalah hirarki yang terdiri dari Paus, Uskup dan imam, namun Gereja Masa Konsili Vatikan II dan setelah Konsili Vatikan II, adalah semua umat Allah yang sedang berjuang dan  belum ada cetak biru peristiwanya untuk Gereja Hari Esok, sebut saja Gereja masa depan.

Komunitas basis adalah basis dinamika kehidupan Gereja masa kini, tetapi juga masa depan. Dengan kata lain, komunitas basis gerejani adalah salah satu gambaran Gereja futuristik (Gereja Masa depan). Sebab itu, kehadiran KBG harus diberi makna sedalam-dalamnya, dengan kualifikasi yang memadai untuk menopangnya, yaitu sikap saling menghargai sebagai saudara dalam iman dan sebagai saudara dalam kemanusiaan.

Realitas sehari-hari kita menunjukkan betapa kita sangat bersukacita dengan salah satu warga yang mengalami kesuksesan dalam hidupnya. Kita bangga jika salah seorang warga kita ternyata mengabdi di daerah lain, dan menyenangkan banyak orang nun jauh di sana.  Lebih daripada itu, kita dengan sukacita pula menyambut dia ketika suatu kembali ke kampung halamannya.

Dia akan dijemput, diberi pengalungan, dan bahkan ditandu sebagai tanda kasih dan penghormatan serta penghargaan atas karunia yang diterimanya.  Situasi ini berbeda dengan apa yang dialami Yesus dalam injil malam ini. Tuhan Yesus telah melakukan banyak mujizat di daerah lain, dan ada begitu banyak orang yang mengagumi karya-karya ajaibNya.

Namun ketika kembali ke kampung halamanNya, Nazareth, kehadiran dan penampilan Yesus tidak disambut dengan “tepuk salut”. Beberapa umat yang mengikuti ibadah di sinagoga berdecak kagum dengan penampilan Tuhan Yesus tetapi kaum elite Yahudi dalam sinagoga dan kroni-kroni mereka melihat kehadiran dan cara pewartaan Yesus sebagai sesuatu yang menyesatkan publik Yahudi. Bagi mereka,

Umat KBG St. Mikael ( foto WG )

“ Yesus bukanlah siapa-siapa selain anak seorang tukang kayu, Yusuf. Sebab itu, pemberitaanNya tentang Kerajaan Allah dan apalagi pengakuanNya sebagai mesias mengkhawatirkan iman mereka, sebab mereka masih menanti seorang mesias, dan tidak mungkin mesias ada pada diri seorang anak tukang kayu. Yesus menerima banyak decak kagum tetapi tidak sedikit penghinaan, bahkan sampai-sampai digiring keluar kota, ke tepi jurang untuk dianiaya. Respon ini menunjukkan bahwa orang Yahudi mengabaikan karunia yang diterima Yesus, karena latar belakang keluarga. Dimana-mana kehilangan rasa percaya sesama warga mempermiskin kualitas persaudaraan, apalagi rasa saling menghargai “ tukasnya

Sikap saling menghargai adalah dasar dari hidup bersama sebagai manusia, tetapi juga spirit dari kehidupan KBG. Kita hidup dengan latar belakang kita yang berbeda, dalam hal ekonomi, pendidikan, suku, dan golongan.

“ Tanpa sebuah sikap saling menghargai, Gereja KBG tidak akan bertahan lama. KBG tetaplah menjadi gambaran Gereja Masa Depan. Mari kita hidupkan KBG dengan sikap saling menghargai yang pantas dan jujur, sebaliknya, mari kita saling menghargai sebagai saudara untuk memperkuat KBG sebagai gambaran Gereja masa depan” tutupnya.

Kegiatan ini akan berlangsung selama 8 hari untuk 44 KBG dalam wilayah Paroki Cewonikit Keuskupan Ruteng dan setiap hari akan diaayani enam KBG ( terlampir )

Redaksi/ WG