HARI RAYA KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM

Minggu, 20 November 2022

HARI MINGGU BIASA XXXIV

Oleh; RD. Ardus Endi

Bacaan I: 2Sam. 5:1-3; II: Kol. 1:12-20; Injil: Luk. 23:35-43

“BIARKAN KRISTUS MERAJAI HATI KITA”

Bapa/Ibu, Saudara/-I terkasih dalam Kristus…

Selamat pagi dan selamat berhari Minggu untuk kita semua. Pada hari ini, bersama segenap umat beriman di seluruh dunia, kita merayakan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Perayaan ini biasanya selalu dirayakan pada Pekan Biasa ke 34 dan persis ini menjadi pekan terakhir dalam perhitungan satu tahun Liturgi. Selanjutnya, kita akan memasuki masa Adven yang akan dimulai pada minggu depan.

Bapa/Ibu, Saudara/-I terkasih dalam Kristus…

Barangkali muncul pertanyaan dalam benak kita, apa makna dari Perayaan ini? Apakah hanya sekedar sebuah perayaan yang menandakan berakhir-nya suatu hitungan tahun Liturgi? Saudara-saudariku terkasih, kalau kita menelisik lebih jauh, Perayaan hari ini sebetulnya bukan hanya sekedar ritus sebagai penanda pergantian tahun Liturgi, tetapi ada yang lebih dari sekedar ritus. Dalam dan melalui perayaan ini kita disadarkan akan pentingnya kehadiran Yesus Kristus  sebagai seorang Raja, dan Dia adalah Raja Semesta Alam. Gereja Katolik mengajarkan kepada kita semua bahwa selain diberi gelar sebagai Imam, dan Nabi, Yesus juga dipredikatkan sebagai Raja. Ia adalah pemimpin dan Tabib Agung yang diutus oleh Allah untuk merajai seluruh dunia. Dia menjadi Raja yang memerintah dan sekaligus memiliki kuasa untuk menyelamatkan dunia. 

Bapa/Ibu, Saudara/-I terkasih dalam Kristus…

Namun, kita semua perlu sadari sungguh bahwa gelar Yesus sebagai Raja bukan dalam pengertian “menguasai” sebagaimana yang dimengerti dalam konteks kerajaan dalam sistem pemerintahan dunia, tetapi lebih kepada pemahaman sebagai seorang pemimpin yang memiliki misi yang tunggal yakni memmbebaskan atau menyelamatkan sebanyak mungkin orang di seantero jagat. Jadi, pemahaman sebagai Raja di sini, bukan dalam konteks pemerintahan duniawi yang penuh dengan intrik politik, tetapi lebih pada tataran rohani-spiritual sebagai Mesias yang menyelamatkan jiwa-jiwa. Yesus bukan sebagai Mesias Politis, tetapi Mesias    penyelamat yang mengedepankan misi pembebasan dan keselamatan banyak orang.

Bapa/Ibu, Saudara/-I terkasih dalam Kristus…

Hal ini, dapat kita temukan dalam seluruh perikop bacaan suci hari ini. Dalam bacaan pertama dikisahkan tentang terpilihnya Daud sebagai raja atas suku-suku bangsa Israel. Dalam konteks ini, keterpilihan Daud sebagai Raja lebih dipahami sebagai sebuah amanah, sebab ia diurapi bukan karena dia memiliki ambisi politis tertentu, tetapi karena dipilih Allah menjadi pemimpin bagi semua suku Israel. Namun, kepemimpinan Daud masih bersifat tentatif artinya sementara, karena dia akan semakin tua dan akan tergantikan dengan sosok yang baru lagi. Itu dalam konteks perjanjian Lama. Sedangkan dalam perjanjian Baru, Allah tidak lagi memilih salah seorang di antara sekian banyak pemimpin yang ada, tetapi Ia mengutus Putra Tunggal-Nya, Yesus Kristus menjadi Raja atas seluruh alam semesta. Dan di sini, kehadiran Yesus menjadi Raja adalah sesuatu yang definitif, artinya kekuasaan-Nya atau kepemimpinan-Nya bersifat abadi dan tak tergantikan. Ia menjadi Raja untuk selama-lamanya. Ia berkuasa atas segala sesuatu, seluruh alam Semesta berada dalam kekuasaan-Nya.

Bapa/Ibu, Saudara/-I terkasih dalam Kristus…

Berbeda dari kebanyakan pemimpin atau Raja, Yesus selalu mendahulukan kepentingan dan keselamatan banyak orang daripada kepentingan diri-Nya. Misi utama dalam seluruh lanskap karya perutusan-Nya adalah melayani demi keselamatan manusia dan dunia. Yesus sendiri memproklamasikan hal itu: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk. 10:45). Karena itu, dalam berbagai karya misi-Nya Ia selalu mengedepankan misi kemanusiaan, misi         pembebasan: menyembuhkan yang sakit, memberi makan kepada mereka yang lapar, memberitakan kabar baik kepada orang-orang miskin, bahkan membangkitkan orang-orang mati. Dengan ini, kita bisa melihat bahwa Yesus meski berpredikat sebagai Raja, namun Ia tidak memiliki ambisi politis sedikitpun untuk menguasai, memeras dan atau mengorbankan orang lain demi kebahagiaan diri-Nya. Yang terjadi justru sebaliknya, Dia mengorbankan diri-Nya demi kebahagiaan dan keselamatan banyak orang. Yesus membangun “Kerajaan” dalam bingkai kasih. Karena itu, kerajaan yang dibentuknya bukan sebuah istana atau tempat, tetapi situasi di mana semua orang hidup bersaudara, damai dan saling mencintai satu sama lain. Dia memproklamasikan Kerajaan Allah, Kerajaan Kasih. Kehadiran-Nya tidak memecah-belah, tetapi mempersatukan.

Bapa/Ibu, Saudara/-I terkasih dalam Kristus…

Lalu apa pesan untuk kita melalui perayaan suci hari ini? Paling kurang ada dua hal yang perlu kita renungkan dan hayati bersama dalam hidup harian kita.

Pertama, kita semua dipanggil untuk menjadi pelayan bagi sesama. Dalam  Kitab Kedua Samuel, sebagaimana yang kita dengar dalam bacaan I tadi, Daud dipilih dan diurapi Allah untuk menjadi Raja atas suku Israel. Ini merupakan sebuah amanah dan berkat sekaligus juga menuntut sikap tanggung jawab dari Daud untuk sungguh hadir sebagai pemimpin yang melayani. Sama seperti Daud, kita semua telah dipilih dan diurapi oleh Allah melalui sakramen pembaptisan, maka kita pun menerima tugas dan tanggung jawab yang sama, yakni menjadi pemimpin sekaligus pelayan bagi sesama. Kita perlu belajar dari Yesus, yang datang sebagai Raja, namun tetap hadir sebagai Pelayan bagi banyak orang.

Kedua, kita semua diajak untuk menghidupi semangat pertobatan. Tentang hal ini, kita perlu belajar dari sosok penjahat bagian kanan yang digantungkan bersama Yesus di bukit Golgota, sebagaimana yang dinarasikan dalam Injil tadi. Menyadari diri sebagai makhluk yang rapuh dan lemah, yang kerapkali jatuh dalam kesalahan dan dosa yang sama, kita diajak untuk merunduk rendah di hadapan Tuhan sembari berkomitmen untuk bermetanioa. “Tidakkah engkau takut kepada Allah, sebab  engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah” (Luk. 23:40-41). Apa yang terungkap dalam pernyataan si penjahat ini adalah penyesalan menjadi mutlak perlu dalam diri kita yang berdosa ini. Penyesalan yang keluar dari hati yang bening akan membawa kita pada sebuah keselamatan. Sama seperti si Penjahat tadi, setelah dia menyesal lalu mengakui keberdosaannya di hadapan Tuhan, dan kemudian dengan penuh kerendahan hati memohon kepada Yesus: “Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Luk. 23:42). Terhadap permohonan si Penjahat ini, Yesus katakan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43). Di sini menjadi jelas bagi kita bahwa “Firdaus” merupakan hadiah istimewa bagi setiap insan yang mau bertobat. Sekali lagi penyesalan yang sungguh-sungguh pasti berbuah manis. Jawaban Yesus kepada si Penjahat tadi serentak menjadi sebuah angin segar bagi kita, bahwa ketika kita bertobat kita pasti selamat dan mendapat tempat di dalam hati Yesus. Pertobatan yang serius akan mengantar kita masuk ke dalam “Firdaus yang membahagiakan.”

Bapa/Ibu, Saudara/-I terkasih dalam Kristus…

Marilah kita memohon kekuatan dan penyertaan Tuhan melalui perayaan suci hari ini, agar kita semua dimampukan menjadi pelayan yang handal dan dengan penuh komitmen menghayati semangat tobat dalam hidup harian kita di masa-masa yang akan datang.

Semoga Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Penulis adalah Pastor rekan di Paroki St. Klaus Kuwu.