HARI MINGGU BIASA XXXIII

Minggu, 13 November 2022

“JADILAH SAKSI KRISTUS YANG SEJATI”

#RD. Ardus Endi

Bacaan I: Mal. 4:1-2a; II: 2Tes. 3:7-12; Injil: Luk. 21:5-19

Bapa/Ibu, Saudara/-I terkasih dalam Kristus…

Selamat pagi dan selamat berhari Minggu untuk kita semua. Pada hari ini kita memasuki Hari Minggu Biasa ke-33. Kalau kita mendengar secara baik dan menyimak secara cermat bacaan-bacaan suci hari ini, sebetulnya ada banyak pesan untuk kita hayati dalam keseharian hidup kita. Namun, saat ini, saya hanya fokus pada satu hal yang sekaligus juga menjadi inti ajakan Yesus bagi kita untuk menjadi Saksi Kristus yang sejati.

Bapa/Ibu, Saudara/-I terkasih dalam Kristus…

Menjadi saksi Kristus pertama-tama mesti akrab dan dekat dengan Yesus Kristus sendiri. Dengan kata lain, kedekatan relasi kita dengan Yesus Kristus menjadi kunci utama untuk dapat bersaksi tentang Dia. Sebab apa yang mau kita wartakan kepada orang lain kalau kita sendiri tidak dekat dan akrab dengan Dia. Lalu apa yang kita ceritakan kepada sesama kita, kalau kita sendiri tidak mengalami kedekatan atau tidak memiliki pengalaman iman dengan Dia. Sama seperti ketika kita menjadi saksi atas suatu peristiwa, kita mesti benar-benar mengalami peristiwa itu atau paling kurang kita melihat sendiri peristiwa itu.

Demikian juga ketika kita menjadi saksi dari orang-orang tertentu yang berstatus khusus. Kita mesti tahu secara pasti tentang orang itu terutama seluk-beluk sikap dan tingkah lakunya, dan dengan demikian kita dapat memberikan rekomendasi atau keterangan yang sebenarnya. Hal ini penting untuk meminimalisir terjadinya hoaks, kesaksian palsu dan kebohongan. Di sini, faktor kedekatan kita dengan orang-orang tersebut juga sangat berpengaruh. Dan biasanya, kalau seseorang dipanggil untuk menjadi saksi atas suatu peristiwa, yang dikisahkan adalah tentang kebenaran, tentang hal-hal yang benar-benar terjadi, tanpa polesan, atau tanpa basa-basi terlalu banyak. Langsung ke inti persoalan, dan menceritakan peristiwa itu apa adanya. Dengan kata lain, menjadi saksi berarti  menjadi penutur yang jujur, menjadi narator yang polos, dan menjadi pembicara yang setia pada kebenaran.

Bapa/Ibu, Saudara/-I terkasih dalam Kristus…

Berhadapan dengan fenomena munculnya nabi-nabi palsu, sebagaimana yang disinggung oleh Yesus dalam Injil hari ini, sekiranya menjadi awasan bagi kita. Yesus dengan tegas katakan: “Waspdalah, jangan sampai kamu disesatkan. Sebab banya orang yang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata, ‘Akulah Dia’ dan ‘Saatnya sudah dekat’. Janganlah kamu mengikuti mereka!” (Luk. 21:8). Dengan ini, Yesus sebenarnya mau menyadarkan kita sekalian untuk secara sungguh-sungguh menjadi saksi yang sejati.

Menjadi saksi berarti pertama-tama, harus setia kepada kebenaran peristiwa. Hal ini penting sebab, tak jarang juga kita temukan kenyataan bahwa ada begitu banyak orang yang menjadi saksi palsu, suka mereka-reka peristiwa dan kemudian menjadi penyebar hoax. Yesus meminta kita semua untuk menjadi saksi kebenaran, menjadi saksi Kristus yang sejati dengan motivasi murni yakni agar kebenaran itu terungkap secara jelas dan tanpa iming-imingan apapun.

Bapa/Ibu, Saudara/-I terkasih dalam Kristus…

Dari uraian ini menjadi jelas bagi kita bahwa ketika kita dipanggil untuk menjadi saksi Kristus, maka kita mesti mengetahui dan harus mengalami kedekatan secara pribadi dengan Yesus, Sang Guru Agung kita, baik dalam doa maupun dalam Ekaristi. Yang kita wartakan kepada orang adalah pengalaman perjumpaan pribadi kita dengan Dia, dan itu adalah pengalaman iman kita. Dengan demikian, kesaksian atau pewartaan kita menjadi bermakna, berdayaguna sekaligus berdayaubah bagi banyak orang. Jadi bukan sekedar basa-basi atau joak-joak saja.

Bapa/Ibu, Saudara/-I terkasih dalam Kristus…

Sebagai murid-murid Kristus di jaman ini, kita semua dipanggil untuk menjadi saksi Kristus. Panggilan menjadi murid Kristus yang sejati tidak cukup hanya dengan kata-kata saja, tetapi mesti nyata dalam tindakan dan sikap hidup sehari-hari. Bahwa kesaksian kita tentang Kristus yang kita alami dalam hidup ini tidak boleh hanya teruntai   dalam kata-kata saja, tetapi juga tampak dalam aksi nyata. Sebab, seperti kata rasul Yakobus, sebagaimana iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati, demikian juga kata-kata yang keluar dari mulut kita kalau tidak diimbangi dengan aksi nyata, itu adalah  sebuah kesia-siaan dan hampa, nirmakna. Persis inilah yang menjadi titik fokus seruan Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika, sebagaimana yang kita dengar dalam bacaan kedua tadi. Rasul Paulus menekankan pentingnya aksi nyata sebagai buah dari doa-doa. Dan aksi nyata itu mesti diperlihatkan dalam semangat kerja yang tinggi. Bahwasanya keseimbangan antara doa dan bekerja itu mesti dijaga. Bahkan Rasul Paulus sangat tegas memperingatkan: “Siapa saja yang tidak mau bekerja, janganlah ia diberi makan!” (2Tes. 3:10).

Bapa/Ibu, Saudara/-I terkasih dalam Kristus…

Marilahdalam terang Sabda Tuhan hari ini, kita terus berbenah diri untuk menjadi saksi Kristus yang sejati, baik dalam pewartaan maupun dalam dalam penghayatan (kesaksian hidup). Hanya dengan cara demikian, kita hadir sebagai tanda yang berdayaguna bagi sesama.

Semoga Tuhan Yesus berkenan memampukan kita semua. Amin.

Penulis adalah Pastor rekan di Paroki St. Klaus.