HARI MINGGU BIASA XXX

(Minggu, 23 Oktober 2022)

Bacaan I: Sir. 35:12-14.16-18; II: 2Tim. 4:6-8.16-18; Injil: Luk. 18:9-14

“ALLAH: SOSOK YANG SELALU PEDULI DAN BERBELASKASIH

Oleh : RD. Ardus Endi

Bapa/Ibu, Saudara/-I yang dikasihi Tuhan…

Selamat pagi dan selamat berhari Minggu untuk kita semua. Pada hari ini  kita memasuki Hari Minggu Biasa ke-30. Bacaan-bacaan suci hari ini hendak menyadarkan kita semua bahwa Allah yang kita imani adalah Allah yang selalu peduli dengan hidup kita manusia. Dia bukanlah sosok yang jauh apalagi angkuh di dalam takhta-Nya, melainkan sosok yang selalu dekat dan selalu menyapa tiap hati manusia yang rapuh. Singkatnya, Allah yang kita imani adalah Allah yang selalu mau bersolider dan responsif dengan kehidupan kita manusia.

Bapa/Ibu, Saudara/-I yang dikasihi Tuhan…

Kitab Putra Sirakh, sebagaimana yang kita dengar dalam bacaan pertama tadi, telah menampilkan wajah Allah yang berbelaskasih. Belaskasih Allah itu tampak dalam sikap-Nya yang adil. Tentang hal ini, Penulis Kitab Putra Sirakh menyatakan: “Tuhan adalah hakim yang tidak memihak” (Sir. 35:12). Pernyataan ini mau memperlihatkan kepada kita semua bahwa Allah adalah sosok yang adil dan memang itulah sifat hakiki dari Allah. Kitab Putra Sirakh bahkan mendeskripsikan secara gamblang terkait hal ini. “Ia tidak memihak dalam perkara orang miskin, tetapi doa orang yang terjepit didengarkan-Nya. Jeritan Yatim piatu tidak Ia abaikan, demikian pula jeritan janda yang mencurahkan permohonannya” (Sir. 35:13-14).

Hal senada juga digariskan oleh Rasul Paulus. Sebagaimana yang telah kita dengar bersama dalam bacaan kedua tadi, Rasul Paulus memberikan kesaksian tentang Allah yang dialaminya. Menurut Paulus, Allah adalah sosok yang selalu mau peduli. Kasih dan kebaikan-Nya tidak pernah berkesudahan. Hal ini sunguh dialami oleh Paulus dalam seluruh dinamika hidupnya, terutama dalam konteks karya pewartaannya sebagai seorang rasul. Dalam suratnya kepada Timotius, Rasul Paulus menulis: “Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak ada seorang pun yang membantu aku; semuanya meninggalkan aku… Tetapi Tuhan telah           mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan pengantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya, dan semua orang bukan Yahudi mendengarkan-nya… Tuhan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia menyelamatkan aku sehingga aku masuk ke dalam Kerajaan-Nya di Surga. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin.” (2Tim. 4:16-18).

Kesaksian Rasul Paulus ini mau memperlihatkan kepada kita semua bahwa Allah selalu hadir dan akan terus menyertai kita. Meski tak seorang pun menghiraukan dan memperhatikan kita, tetapi Allah tidak akan pernah membiarkan kita berjalan sendirian. Ia tidak akan pernah membiarkan kita berjuang sendirian bahkan dalam situasi-situasi sulit sekalipun, sebab Ia akan selalu menguatkan dan meneguhkan kita. Lebih jauh dari itu, Rasul Paulus juga mau menyadarkan kita bahwa keselamatan dari Allah selalu datang pada waktunya. Atau dengan kata lain, pertolongan Tuhan akan selalu indah pada waktunya. Yang terpenting adalah kesiapsediaan kita untuk selalu bersandar pada-Nya.

Bapa/Ibu, Saudara/-I yang dikasihi Tuhan…

Dari tulisan Kitab Putra Sirakh dan Kesaksian Rasul Paulus di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa Allah adalah sosok yang tidak pernah tuli, melainkan selalu peduli mendengarkan rintihan doa kita. Allah tidak pernah apatis, melainkan selalu setia menyertai kita. Rasul Paulus mengingatkan kita untuk selalu percaya kepada Tuhan. Keselamatan atau kebahagiaan kekal itu memang merupakan rahmat dari Allah, tapi tetap butuh perjuangan dari pihak manusia. Dari pengalaman dan kesaksian Paulus, kita dapat mengetahui bahwa kita semua akan selalu mendapatkan perlindungan dari Tuhan ketika kita setia datang kepada-Nya. Datang dan percaya kepada Tuhan adalah sebagian dari cara dan usaha kita untuk memperoleh         kemurahan dan belaskasih-Nya,

Bapa/Ibu, Saudara/-I yang dikasihi Tuhan…

Pertanyaan untuk kita: Sudah seberapa seringkah kita datang kepada Tuhan untuk bersujud dan berdoa? Sudahkah kita percaya sepenuhnya kepada Tuhan? Saudara-saudari terkasih, entah sadar atau tidak, seringkali kita kembeleis (malas tahu atau masa bodoh). Kita selalu menganggap doa sebagai sesuatu yang tidak penting dan hanya menghabiskan waktu. Kita kerapkali bergusar begini: untuk apa berdoa terus kalau toh pada akhirnya hidup tetap saja susah? Untuk apa kita berdoa kalau toh hal itu tidak mengubah hidup kita? Dan aneka pertanyaan lainnya. Berhadapan dengan kenyataan seperti ini, saya kira tidaklah berlebihan bila saya mengibaratkan doa seperti payung yang kita gunakan saat sedang hujan. Kita menggunakan payung, tidak bermaksud untuk menghentikan hujan turun dari langit, tetapi minimal dengan memakai payung kita tidak kena air hujan alias basah. Dengan menggunakan payung, toe manga cegong le ces, agu toe manga depet le menes ite. Kita tetap aman, meski hujan tetap mengalir deras. Demikian pun doa. Doa sebenarnya tidak secara langsung menyelesaikan persoalan atau menghilangkan penderitaan dan kesulitan yang kita alami. Tetapi minimal dengan doa, kita  memperoleh kekuatan dan semangat baru sehingga kita bisa menghadapi setiap  tantangan dan persoalan itu dengan hati yang tulus, dan pada akhirnya kita dapat menemukan jalan keluar dari persoalan yang ada.

Bapa/Ibu, Saudara/-I yang dikasihi Tuhan…

Satu ajakan penting bagi kita dari bacaan-bacaan suci tadi adalah agar hidup kita selalu bersandar pada Tuhan. Karena itu, neka teing toni Morin, neka teing racap Mori Ngaran. Yesus justru memberi jaminan kebahagiaan dan  sukacita kepada setiap orang yang datang dan percaya kepada-Nya. Sebab Ia sendiri berkata: “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi dan barangsiapa percaya kepada-Ku ia tidak akan haus lagi”. (Yoh. 6:35).

Selanjutnya dalam Injil, Yesus mengingatkan kita semua pada sifat Allah yang selalu berbelaskasih. Dalam dan melalui kisah tentang seorang Farisi dan seorang Pemungut Cukai yang datang berdoa di dalam Bait Allah dengan intensi yang berbeda-beda, Yesus mau menyadarkan kita sekalian bahwa Allah selalu setia mendengarkan setiap rintihan doa kita dan merangkul semua orang, terutama para pendosa yang bertobat. Allah memang membenci dosa, tetapi tetap mencintai para pendosa yang mau bertobat. Di sini semakin tampak bagi kita bahwa Allah sunguh mencintai kita manusia. Dia selalu memastikan kita semua terjaring dalam “perahu” keselamatan-Nya.

Bapa/Ibu, Saudara/-I yang dikasihi Tuhan…

Sebagai Pengikut Kristus di zaman ini, kita diajak untuk senantiasa mengikuti gerak hati Allah yang berbelaskasih. Kita semua mesti menampakkan wajah Allah yang berbelaskasih yang selalu mencintai semua orang tanpa pandang bulu. Karena itu, dalam pelayanan, kita tidak boleh membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lainnya, tidak boleh memilah-milah, semua harus sama. Kita tidak boleh mencintai dan mengasihi yang satu lalu mengabaikan yang lain. Sama seperti Bapa di Surga menerbitkan matahari bagi orang baik dan orang jahat dan menurunkan hujan baik bagi orang benar maupun bagi orang berdosa. Ketika kita mampu mengasihi, mencintai dan melayani sesama tanpa pilah-pilih, sesungguhnya kita sudah hadir sebagai duta kasih Allah bagi sesama. Semoga Tuhan berkenan memampukan kita semua. Amin.

# Penulis adalah pastor rekan Paroki St. Klaus Kuwu