Misa Peringatan 10 Tahun Wafat Bapak Lazarus Kerau Berlangsung Khidmat

Ruteng. parokicewonikit.com –  Perayaan Ekaristi peringatan 10 tahun berpulangnya Almarhum Bapak Lazarus Kerau berlangsung di rumah kediaman keluarganya di KBG Santu Petrus, Kakor Pau, Paroki Cewonikit, Jumat 7 Oktober 2022 malam. Misa dipimpin RD Marsel Hasan dan dihadiri istri, anak-anak, cucu dan keluarga besar mendiang serta umat KBG Santu Petrus.

RD Marsel Hasan memimpin Misa Peringatan 10 tahun wafatnya Bapak Lasarus Kerau di KBG Santu Petrus. ( foto Jimmy )

Dalam kotbahnya, RD Marsel mengatakan, Allah mencintai semua orang dan tidak menginginkan hidup kita berakhir dengan kebinasaan. “Dia akan mengumpulkan kembali kita semua, untuk hidup bersama Dia dalam Kerajaan Surga,” kata RD Marsel.

Dengan mendoakan orang-orang yang telah meninggal dunia, lanjut RD Marsel, karena kita percaya ada Cinta Tuhan yang menyediakan suatu kehidupan baru bagi mereka. “Malam ini secara khusus kita berdoa dan mengadakan Perayaan Ekaristi untuk Bapak Lazarus. Dia sudah 10 tahun lalu meninggalkan kita semua. Sampai saat ini kita tetap mendoakan dia, karena Cinta Tuhan. Karena Tuhan menyediakan tempat baru untuk semua orang yang telah meninggal,” lanjut RD Marsel.

Imam yang kini sedang berkarya sebagai pastor tamu di Paroki Cewonikit ini menambahkan, hanya Tuhan yang bisa menganugerahkan kehidupan kekal, sehingga bagi semua orang yang telah meninggal kita tidak menyerahkan kepada orang lain, tetapi kepada Allah yang memberikan Firdaus.

Rony Kerau, putra sulung almarhum Bapak Lasarus Kerau saat menyapa umat yang hadir Misa.( foto Jimmy )

Misa Bersama Menjadi Kerinduan Keluarga

Usai Misa, putra sulung Almarhum yang menyampaikan sambutan mewakili keluarga, Rony Kerau dihadapan umat KBG Santu Petrus, tamu undangan dan keluarga besar mengatakan kepergian ayahanda, Almarhum Bapak Lazarus Kerau selalu ada dalam kenangan keluarga. Kisah hidup dan kebaikannya selalu dirindukan oleh anak-anak.

“Sampai saat ini masih ada kerinduan untuk kebersamaan seperti yang kami alami ketika beliau masih berada di dunia ini dulu. Dan kami ingin mewujudkannya dengan kebersamaan kita semua dan terutama dengan Perayaan Ekaristi. Sehingga atas nama Mama, dan kami semua anak-anaknya, menyampaikan terima kasih mendalam untuk Romo dan semua yang sudah mengambil bagian dalam Perayaan Ekaristi ini,” kata Rony Kerau, pendidik yang juga kini menjabat Ketua Dewan Stasi Latung Paroki Compang di Manggarai Barat.

Sosok yang Demokratis

Almarhum Lazarus Kerau adalah anak sulung dari 8 bersaudara. Lahir di Ngkor-La’o pada 31 Desember 1941 dan menikah dengan Mama Maria Jenunut. Karir terakhirnya sebelum pensiun sebagai ASN, bekerja di Kantor UPTD SKB di Kabupaten Manggarai. Ia wafat dalam damai dan pada 6 Oktober 2012.

Semasa hidupnya, ia dikenal banyak orang sebagai sosok yang tenang, pendiam, sederhana dan rendah hati. Di KBG Santu Petrus pun demikian, saat masih hidup, almarhum dicintai banyak orang karena pembawaan dirinya yang patut menjadi teladan.

Ory Kerau, putra ke-2,  dalam acara tersebut  mengisahkan, bahwa sosok Almarhum Bapak Lazarus Kerau adalah seorang ayah atau kepala keluarga yang demokratis.

“Dalam hal melanjutkan pendidikan setelah saya tamat SMA misalnya, dia memberi kebebasan mau kuliah apa atau bahkan kalau mau tidak lanjut ke universitas tidak apa-apa. Dia selalu menghargai pilihan hidup anak-anaknya,” kisah Ori mengenang sang ayah.

Setelah menyelesaikan perkuliahannya, lanjut Ory, sebagai anak, dia merasakan sosok Alnarhum ayahnya sebagai pribadi yang luar biasa baik kepada anak-anaknya.

“Bapa Lazarus orangnya demokratis dalam keluarga kami dan tidak pernah memaksa kehendaknya kepada kami semua anak-anaknya, enam bersaudara,” kisah Ory yang berprofesi guru di SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng.

Maria Goreti Lambus, 63 tahun, salah seorang saudari kandungnya mengenang sosok sang kakak, Lazarus sebagai orang yang tenang dan bijaksana sejak kecil.

“Kami delapan bersaudara hidup selalu akur, itu juga karena keteladanan yang ditunjukkan kakak sulung ini. Orangnya sabar, perhatian kepada kami adik-adiknya. Waktu masih di SPG, kadang kalau saya terlambat bayar uang sekolah, dia cepat tergerak hatinya membantu bayar,” kenang Maria Goreti.

Redaksi /Jimmy Carvallo