Akapela Kelompok Paduan Suara KBG St. Valerianus Dongang 2 Mengiringi Perayaan Ekaristi dan Riwayat St. Valerianus

Ruteng. parokicewonikit.com – Seni musik akapela merupakan suatu teknik bernyanyi yang biasanya dilakukan secara berkelompok tanpa diiringi alat musik.

Saat ini mungkin sudah banyak yang tahu apa itu akapela yang mempunyai keunikan tersendiri yaitu memiliki keharmonian dan persatuan nada indah yang dapat membuat bulu kuduk merinding akan keindahan suaranya.

Itulah yang ditampilkan paduan suara Kelompok Basis Gerejawi (KBG) St. Valerianus Dongang II Wilayah 3 Paroki St. Vitalis Cewonikit, Keuskupan Ruteng, pada Rabu, 5 oktober 2022 saat Misa Kelompok yang dipimpin pastor Paroki Cewonikit Romo Ardi Obot.

Menyimak tampilan suara merdu saat misa di KBG itu, Romo Ardi menyampaikan apresiasi atas kreasi paduan suara yang dipimpin Isfiridus.

“Terima kasih banyak untuk nyanyian yang ditampilkan paduan suara dari KBG St. Valerianus Dongang II ini. Lagu tanpa musik yang disebut akapela seperti ini yang dilombakan pada Pesta paduan suara gerejani (pesparani) seperti waktu lalu di Ambon yang kami ikuti sewaktu saya bertugas di Labuan Bajo,” puji Romo Ardi.

Warga Kelompok St. Valerianus Dongang foto bersama Rm Ardi ( Foto WG)

KBG st. Valerianus adalah pemekaran dari KBG induk Sta. Sisilia. Siapakah St. Valerianus? Berikut cerita tentang orang kudus, pelindung KBG yang dikumpulkan paroki.cewonikit.com dari berbagai sumber:

Valerianus hidup di abad ke-3. Ia adalah seorang pemuda bangsawan Romawi yang berhati mulia dan jujur namun belum mengenal iman Kristiani. Sesuai kebiasaan para bangsawan Romawi di masa itu, Valerianus dijodohkan kedua orang tuanya dengan Sesilia, seorang wanita bangsawan yang terkenal cantik jelita.

Dikisahkan bahwa setelah mereka menikah, Valerianus terperanjat saat mengetahui bahwa isterinya adalah seorang kristen. Di masa itu, menjadi kristen adalah terlarang. Bila ketahuan, akan segera ditangkap dan dihukum mati. Valerianus terkejut saat mendengar pengakuan Sesilia, “Aku mempunyai suatu rahasia yang hendak kukatakan kepadamu. Aku mohon agar engkau mendengarkannya dengan sepenuh hati dan tetap menerima aku sebagai isterimu. Engkau harus tahu bahwa aku telah berkaul untuk mempersembahkan kesucianku kepada Kristus, dan aku mempunyai seorang malaikat yang selalu menjaga aku. Jika engkau berani menyentuh aku, maka malaikat pelindungku itu akan marah dan engkau akan menanggung banyak penderitaan. Tetapi, jika engkau menghormati kesucianku, maka malaikat pelindungku itu akan mencintai engkau sebagaimana dia mencintai aku.”

Atas pengakuan isterinya itu, Valerianus menantang; “Tunjukkanlah kepadaku malaikatmu. Jika ia datang dari Tuhan, aku akan mengabulkan permintaanmu.”

Sesilia berkata; “Jika engkau percaya akan Allah yang satu dan benar serta menerima air pembaptisan, maka engkau akan dapat melihat malaikatku.”

Kemudian Valerianus pergi menemui Uskup Roma (Paus) Gaius yang menerimanya dengan gembira. Setelah menyatakan pengakuan iman Kristiani, Valerianus dibaptis dan pulang kerumah. Tiba dirumah, ia terkesima menemukan Sesilia sedang berdoa dengan ditemani oleh seorang malaikat. Malaikat itu kemudian mengenakan mahkota di kepala mereka berdua. Sejak saat itu Valerianus menjalani hidup baru sebagai seorang pengikut Kristus.

Saat penganiayaan atas orang kristen semakin memuncak, Valerianus bersama saudaranya, Tiburtius, berupaya untuk memberikan penguburan yang layak bagi para martir kristen yang dibunuh. Ketika mereka berdua juga tertangkap, dengan gagah berani mereka memilih mati daripada carthusian atau menyangkal imannya.

Ketua KBG Kristoforus Kostaram mengumumkan hasil pengumpulan Sumbangan ( Foto WG )

Perayaan ekaristi atau misa kelompok ke-38 yang diadakan di KBG St. Valerianus Dongang II ini merupakan bagian dari rencana DPP Paroki Cewonikit yang dilaksanakan oleh pastor Paroki Cewonikit, Romo Ardi Obot, untuk menyukseskan kegiatan pengecatan kembali gedung Gereja Paroki Cewonikit.

Kelompok St. Valerianus Dongang yang dipimpin ketua kelompok Kristoforus Kostaram, terdiri dari 37 kepala keluarga. Sumbangan untuk pengecatan gereja dari kelompok ini yang diumumkan ketua KBG sejumlah Rp 5.438.000 dan masih tersisa dua amplop yang belum dikembalikan.

Redaksi/ WG