Rekam Jejak Perjalanan Panjang Paroki St. Vitalis Cewonikit

Oleh Fr. Hedwig Nambung, Pr.

Ruteng, parokicewonikit.com – Kota yang diapiti berjejer bukit dan selalu diselimuti kabut. Curah hujan yang tinggi dan hawa sejuk nan dingin akan memanjakan kulitmu yang selalu berselimutkan jaket. Kesejukan yang berpadu dengan alam nan hijau turut memanjakan raga untuk berjalan menikmati keindahan pemandangan bukit dan lembah.

Tat kala kamu berjalan menyusuri dan mengelilingi Kota Ruteng, maka bisa dipastikan kamu akan menjumpai sejumlah Gereja dengan beragam konstruksi indah dan megah. Itulah yang membuat Ruteng dijuluki sebagai Kota 1001 Gereja. Satu dari sekian Gereja nan megah itu ialah Gereja St. Vitalis Cewonikit. Konstruksi interior dan eksterior bergaya Eropa akan membuatmu takjub dengan keindahan dan kemegahannya sebagai rumah Tuhan. Bahkan rasa takjubmu akan berkepanjangan tat kala membaca dan mengetahui rekam jejak paroki Cewonikit dalam untaian ulasannya berikut ini.

  1. CEWONIKIT DI MASA SILAM

“Pada mulanya adalah Sabda. Sabda itu kemudian menyebar ke penjuru dunia, bertumbuh subur di seluruh muka Bumi. Dan seperti Sabda yang menjadi manusia, demikianlah Sabda Surgawi kian membumi, di Tanah Manggarai.” Sejak tahun 1912, iman akan Kristus-Sang Sabda  telah dan mulai bertumbuh mekar dalam kehidupan para umat Kristiani yang berdiam di Tanah Manggarai-Tana Congka Sae. Seperti waktu yang terus berubah, demikian pun perkembangan iman umat yang terus bertumbuh subur, membuat jumlah umat terus berubah dan semakin banyak.

Di Kota Ruteng, efek lanjutan dari pertumbuhan dan perkembangan iman Kristiani ialah penyebaran umat yang tidak lagi berpusat hanya di seputaran Gereja Katedral sebagai sentral Keuskupan Ruteng. Hal ini secara jelas tergambar dalam tapak sejarah Keuskupan Ruteng yang melihat dan menyadari akan banyaknya jumlah umat di bagian barat Kota Ruteng, mulai dari Kampung Pau sampai Kampung Taga. Maka atas restu Uskup dan upaya misionaris Serikat Sabda Allah, didirikannya Paroki St. Nikolaus Golodukal. Adapun Paroki ini memiliki satu stasi yakni Stasi Cewonikit.           

Namun uniknya, ketika Mgr. Vitalis Jebarus, SVD mengemban tugas sebagai Uskup Ruteng, terjadi perubahan. Perubahan ini terjadi ketika Bapak Uskup menyodorkan program Paroki Berdikari yang meliputi tiga bidang, yakni pemberdikarian mental, pemberdikarian material dan pemberdikarian personil. Adapun tema pemberdikarian material dijalankan dengan mengoptimalkan potensi-potensi yang ada dalam diri umat dan paroki. Kolekte dan iuran paroki mulai dijalankan dan tanah-tanah paroki dimanfaatkan demi membantu keuangan paroki. Dalam menjalankan program ini, didapati bahwa umat stasi Cewonikit lebih siap dan mandiri ketimbang umat di wilayah paroki pusat Golodukal. Hal ini dilatarbelakangi oleh pertumbuhan dan perkembangan jumlah umat di Stasi Cewonikit lebih pesat dari pada jumlah umat di Golodukal, yang adalah pusat paroki.  Oleh karena itu, berdasarkan kesepakatan bersama tingkat keuskupan, maka Mgr. Vitalis Jebarus memutuskan Paroki Golodukal diubah statusnya menjadi stasi dan sebaliknya stasi Cewonikit diangkat menjadi paroki. Sebagai kelanjutannya, Stasi Golodukal menjadi bagian dari Paroki Cewonikit, sebagai paroki induk.

Cewonikit disahkan sebagai paroki pada tanggal 4 Januari 1979 dengan memercayakan RD. Amandus Mbiri sebagai Pastor Paroki pertama. Rupanya kebijakan pemekaran paroki yang dicetus langsung oleh Mgr. Vitalis jebarus, SVD sebagai Kepala ordinaris wilayah Keuskupan Ruteng, menjadi angin segar bagi seluruh umat di Paroki Cewonikit. Pasalnya hal ini telah dipersiapkan, baik oleh pihak Keuskupan maupun dari umat sendiri. Salah satu bukti persiapan pada masa itu ialah sudah adanya Gereja dan pastoran. Gereja perdana inilah yang turut menjadi batu pijakan bagi perkembangan iman dan jumlah umat. Sesungguhnya, Gereja ini telah di bangun pada tahun 60-an dan menjadi tempat pelayanan para misionaris SVD dalam merayakan Ekaristi Suci bersama umat. Pastor yang sering berasistensi pada awal pendirian Gereja ini yakni P. Bruno Bras, SVD. Lokasi gedung Gereja pertama ini, bertempat di Cewonikit yang sekarang sudah menjadi biara Susteran PRR.

Kalau ditanya, “Kenapa paroki baru ini diberi nama Paroki Santo Vitalis Cewonikit?”

Kurang lebih, ceritanya seperti ini; Pertama, Sebagai bentuk ucapan terima kasih dan dalam mengenang jasa Mgr. Vitalis Jebarus yang telah memprakarsai berdirinya Paroki Cewonikit, maka disepakati bahwa nama Paroki diambil dari nama Mgr. Vitalis dan menjadikan St. Vitalis dari Roma sebagai pelindung paroki yang diperingati setiap tanggal 10 Juli. Kedua, Nama Cewonikit diambil dari nama lingkungan sekitar, tepatnya nama Sekolah Dasar yang sudah ada sejak lama yakni SDK St. Nikolas Cewonikit.

Adapun letak sekolah ini berdekatan Gereja. Konon, nama cewonikit ini diambil dari dua kata dalam Bahasa Manggarai, yakni cewo (sarang) dan niki (kelelawar). Pasalnya, dulu wilayah tersebut merupakan hutan yang menjadi sarang atau tempat hunian bagi kelelawar. Seturut cerita lisan, sebutan cewo niki (sarang kelelawar) untuk lingkungan tersebut kemudian mengalami “kesalahan” penyebutan dan penulisan di dinas pendidikan tingkat pusat dan provinsi, Cewo niki ditambah huruf ( t ) sehingga melahirkan kata cewonikit. Kata atau nama “Cewonikit” inilah yang kemudian lazim dipakai hingga saat ini.

  1. CEWONIKIT YANG TERUS BERBENAH-BERUBAH SETURUT KARYA PARA PASTOR PAROKI

Gereja pertama Paroki St. Vitalis Cewonikit, yang sekarang menjadi biara dari para suster Putri Reinha Rosari (PRR), memiliki bentuk yang unik. Dari luar, Gereja ini menyerupai mbaru gendang yang berbentuk bulat. Pada bagian tengah atapnyanya, berdiri sebuah candi dengan memancang salib di bagian ujung atas. Sedangkan untuk bagian dalam, bentuk Gereja ini menyerupai stadion sepak bola. Altar atau panti imam berada di tengah sehingga menjadi sentral, sedangkan panti umat berbentuk lingkaran dengan posisi mengelilingi altar.

Gereja pertama ini memiliki ukuran yang kecil, sehingga tidak mampu lagi menampung umat yang jumlahnya kian bertambah, apalagi setelah Cewonikit disahkan menjadi paroki. Maka, RD. Yosef Tarong selaku pastor paroki yang menggantikan RD. Aman Mbiri, bersama para dewan Paroki Cewonikit memutuskan untuk memindahkan lokasi Gereja dan pastoran ke  lokasi yang baru. Adapun lokasi wilayah pastoran dengan bangunan Gereja yang baru bergeser ke arah bawah, di wilayah Rambung dan Dongang. Walaupun lokasi paroki berpindah tempat, namun namanya tidak berubah. Pemindahan lokasi ini terjadi pada tahun 1983. Di atas lokasi inilah yang hingga saat ini berdiri bangunan Gereja, pastoran, dan aula Paroki St. Vitalis Cewonikit. Adapun bangunan Gereja kedua dengan konstruksi yang lebih besar, tetap memiliki bentuk yang hampir sama dengan bangunan Gereja sebelumnya.

Selain perubahan pada bangunan Gereja, terjadi pula perubahan dalam struktur paroki. Hal ini ditandai dengan pergantian pastor paroki, yang mana pada tahun 1999 RD. Yosef Tarong digantikan oleh RP. Marsel Nahas, SVD. Namun RP. Marsel Nahas, SVD menjabat sebagai pastor paroki hanya berlangsung selama satu tahun. Beliau kemudian digantikan oleh RD. Benediktus Jehadun pada tahun 2000.

Ketika RD. Benni Jehadun berkarya sebagai pastor paroki cewonikit, dalam perjalanan waktu disadari bahwa bangunan Gereja rupanya sudah tidak mampu lagi menampung umat Paroki Cewonikit yang kian bertambah banyak. Apalagi ketika Perayaan Ekaristi di masa Natal dan Paskah, jumlah umat sangat membeludak. Alhasil, di pelataran Gereja harus dibangun tenda bagi umat yang tidak mendapat kursi di dalam Gereja. Menyikapi keadaan ini, maka pada tahun 2004, Gereja kedua ini pun dibongkar agar di tempat yang sama dapat dibangun sebuah bangunan Gereja baru.

Selama bangunan Gereja dibongkar, perayaan-perayaan liturgi berlangsung di aula paroki. Adapun proses pengerjaan dan pembangunan Gereja baru berlangsung selama sepuluh tahun di bawah komando RD. Yosef Karus selaku pastor paroki, menggantikan RD. Beni Jehadun. Kekuatan doa, dana, dan kerja menjadi motor penggerak dalam membangun rumah Tuhan tersebut. Dalam pengerjaannya dari awal, ada begitu banyak pihak yang dilibatkan seperti umat, biarawan/wati, para pelajar, pemerintah, sejumlah donator, dan sebagainya. Proses pengerjaan gereja baru yang cukup lama akhirnya memberikan kepastian hasil dan keceriaan bagi seluruh umat Paroki St. Vitalis Cewonikit ketika bangunan Gereja nan megah diresmikan oleh Mgr. Hubertus Leteng Pr. pada tanggal 19 Juli 2015.

Beragam cara dan upaya dari pelbagai pihak selama proses pembangunan Gereja, sungguh terjawab dengan puas lewat kemegahan dan keindahan konstruksi bangunannya. Kemegahan interior dan eksteriornya yang bergaya Eropa membuat semua umat takjub, terutama mereka yang baru melihatnya. Lebih dari itu, seluruh umat sangat bersyukur dan bersukacita bisa kembali merayakan pelbagai perayaan liturgi di Gereja yang kini sudah menjadi baru dan megah. Selain adanya pembangunan Gereja baru, ketika RD. Yosef Karus menjabat sebagai pastor paroki, terjadi pula pemekaran paroki Golodukal yang sebelumnya menjadi stasi dari Paroki Cewonikit. Berdasarkan Surat Keputusan dari Uskup Ruteng, sejak tanggal 22 Mei 2011 Stasi Golodukal diangkat menjadi paroki yang berdiri secara mandiri. Sejak peresmiannya hingga saat ini, Paroki St. Nikolaus Golodukal dipercayakan kepada para imam SVD dalam menjalankan karya pastoralnya.

Dalam perjalanan waktu, RD. Yosef Karus yang sudah berkarya di Paroki Cewonikit selama sepuluh tahun dan menjadi nahkoda pengerjaan Gereja baru, harus berpindah tempat tugas. Beliau pun digantikan oleh RD. Servulus Juanda pada tahun 2016.

RD. Selus Juanda bertugas sebagai pastor paroki Cewonikit dan merangkap sebagai koordinator KKI untuk Keuskupan Ruteng. Hal ini memberikan efek positif terhadap perhatiannya yang besar kepada kelompok SeKaMi anak dan remaja Paroki Cewonikit. Sedangkan di bidang pembangunan, RD. Selus bersama para dewan telah membangun pagar tembok sebagai pembatas antara lingkungan paroki dan jalan raya. Selain itu, dibangun pula erea parkir untuk kendaraan mobil dan motor. Adapun RD. Selus Juanda berkarya sebagai pastor paroki Cewonikit selama lima tahun. Ia kemudian digantikan oleh RD. Benediktus Ardi Obot pada tahun 2021. 

Kehadiran RD. Ardi Obot memberikan warna baru bagi tampilan dan situasi Paroki St. Vitalis Cewonikit. Ada banyak gebrakan yang dilakukan oleh RD. Ardi sejak kedatangannya di pastoran Cewonikit hingga saat ini. Di bidang pembangunan, RD. Ardi yang baru bertugas selama kurang dari dua tahun, telah menyulap lingkungan paroki menjadi kian sakral dengan membangun dua wisata rohani yakni Gua Maria dan Ruang Doa Adorasi. Adapun dua tempat rohani ini dibangun dengan penuh keindahan dan kemegahan, sehingga menarik hati umat untuk datang berdoa dengan penuh hikmat dan khusuk. Bahkan tidak jarang, para pengunjung Gua Maria dan Ruang Adorasi adalah umat dari luar Paroki Cewonikit. Selain membangun tempat wisata rohani, RD. Ardi Obot dalam karyanya juga telah membangun pastoran baru untuk Paroki Cewonikit.

Adapun pastoran tersebut semacam hasil sulap yang dilakukan oleh RD. Ardi, pasalnya bangunan tersebut sebelumnya merupakan ruang kosong dari lantai satu Gereja yang dijadikan gudang dan tidak terawat. Namun, dengan segala ide dan cara, RD. Ardi mengupayakan tempat tersebut menjadi sebuah pastoran. Di pastoran baru tersebut tersedia beberapa kamar untuk para pastor dan tamu yang ingin menginap di sana. Lebih dari itu, pastoran tersebut juga memiliki ruang pendopo yang cukup besar agar diperuntukkan bagi umat atau tamu yang hendak bertemu atau memiliki urusan tertentu dengan pastor paroki. Selain mendirikan beberapa bangunan tadi, RD. Ardi dalam karya pelayanannya bersama para dewan juga mampu memanfaatkan area parkir untuk dijadikan sebagai lapangan bola Volley. Lapangan inilah yang menjadi saksi kemeriahan Liga Voli antar wilayah separoki Cewonikit dalam rangka memeriahkan Hari Raya Pentakosta.      

Semangat RD. Ardi dalam membangun pastoran dan situs rohani selaras dengan geliat dan keuletannya dalam membangun iman serta semangat umat. Dengan gayanya yang luwes dan kocak, ia membangun keakraban dengan semua umat sembari mewartakan Sabda Tuhan. Salah satu cara yang ia lakukan dalam mendekatkan diri dengan umat ialah melaksanakan Misa atau Perayaan Ekaristi wajib di semua kelompok lingkungan secara berurutan. Pelaksanaan Misa  ini juga menjadi salah satu cara untuk melibatkan umat dalam program pengecatan ulang bangunan Gereja. Pasalnya, selain keterlibatan secara fisik dalam mengikuti Perayaan Ekaristi, umat juga diwajibkan untuk memberikan sumbangan dana agar renovasi Gereja berjalan lancar. Sedangkan dalam menarik hati dan perhatian umat untuk rajin mengikuti Misa di Gereja dan KBG, RD. Ardi Obot dengan jiwa yang penuh semangat memimpin Perayaan Ekaristi dan senantiasa menyelipkan humor bermakna dalam setiap kotbahnya.

  1. REKAM JEJAK PARA IMAM, BIARAWAN/WATI, DAN KETUA DPP YANG (PERNAH) BERKARYA DI PAROKI CEWONIKIT

Perjalanan panjang Paroki Cewonikit, dengan segala perubahan dan kemajuan hingga saat ini, tidak terlepas dari peran serta sejumlah imam yang pernah bertugas di Cewonikit untuk menjadi rekan dari pastor paroki. Berikut ini merupakan sejumlah nama pastor rekan yang pernah bertugas di Cewonikit; RP. Hila Gudi, SVD, RP. Niko Bot, SVD, RD. Max Nambu, RD. Thomas Ebo, RD. Amandus Mbiri, RP. Frans Pora, SVD, RP. Horst Baun, SVD, RD. Yosef Tarong, RP. Marsel Nahas, SVD, RD. Frans Do Koo, RP. Marsel Agot, SVD, RD. Bene Bensy, RD. Frans Dominggo, RD. Yosef Nurung, RD. Herman Ando, RD. Frans Aci, RD. Basilius Agut, RD. Hubertus Leteng, RP. Maxi Ali Perajaka, SVD, RP. David Jerubu, SVD, RD. Frans Doi, RD. Laurens Tjoang, RD. Siprianus Hormat ( sekarang uskup Diosis Ruteng ), RP. Paulus Parung, SVD, RD. Patrick Dh. Guru, RD. Laurentius Saya, RD. Agus Sugiyarto, RD. Fidelis Den, RD. Karolus Mbombo, RD. Yohanes Miharjo, RD. Yosef Kakor, RD. Hermen Sanusi, RD. Alfons Segar, RD. Vinsen Nase, RD. Emanuel Haru, RD. Hiero Bandur, RD. RD. Ino Mansur, RD. Benny Denar, RD. Ardus Jehaut.

Dalam menjalankan tugas di Gereja dan pemberian komuni bagi orang-orang tua dan orang sakit di Paroki Cewonikit, Pastor paroki juga dibantu oleh sejumlah suster dari beberapa biara atau konggresi. Beberapa biara susteran yang berkarya di Cewonikit yakni;  SSpS Ap, SSpS, Fransiskanes (FSSE), Putri Reinha Rosari (PRR), Putri Karmel, Lambung Kudus, Dominikan (OP), dan Compassionis. Selain biara susteran,  di Paroki Cewonikit juga terdapat sebuah rumah pembinaan bagi calon imam dari biara Vocationist.(sekarang sudah pindah di Golo Bilas ) dan gedung yang pernah ditempati ordo SDV itu sekarang menjadi rumah untuk para imam jompo dan sakit milik Keuskupan Ruteng yang dipimpin Komisi Kesehatan Pusat Pastoral ( Puspas ) Keuskupan Ruteng yang sekarang Ketua Komisinya RD. Pepy Bora.

Karya perlayanan para pastor paroki dan pastor rekan di Paroki Cewonikit, tidak pernah terlepas dari pengabdian para dewan pelayanan paroki (DPP). Ketua bersama anggota DPP senantiasa menjadi backing serentak rekan dari para pastor paroki dalam mengurus kehidupan parochial. Berikut ini merupakan sejumlah nama yang (pernah) yang menjadi Ketua DPP sepanjang karya perjalanan dari Paroki St. Vitalis Cewonikit; Bpk. Mikael Radam, Bpk. Isidorus Jeharut, Bpk. Yosef Badang, Bpk. Tobias Kabut, Bpk. Petrus Janggur, Bpk. Alex Makur, Bpk. Fabianus Sam, Bpk. Marsel Gambang, Bpk. Aleks Saryono, Bpk. Yohanes Sakir, Bpk. Paulus Bero, Bpk. Paskalis Jemali.

  1. WAJAH CEWONIKIT ZAMAN NOW

Paroki St. Vitalis Cewonikit merupakan salah satu paroki yang terletak di Kota Ruteng. Secara geografis, wilayah sebelah utara berbatasan dengan wilayah paroki Ekaristi Kudus Ka Redong. Wilayah sebelah selatan berbatasan dengan wilayah kawasan Hutan pegunungan Mandosawu. Wilayah sebelah Timur berbatasan dengan Wae Gogol, Paroki Santa Maria Assumpta dan Santo Yosef Katedral. Sedangkan wilayah sebelah Barat berbatasan dengan Paroki Santo Nikolaus Golodukal. Wilayah Paroki Cewonikit juga berada dalam dua kelurahan yaitu Kelurahan Pau dan Kelurahan Lawir yang merupakan bagian dari Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai.

Keberadaan Paroki Cewonikit di tengah kota Ruteng menjadikannya sebagai salah paroki dengan jumlah umat terbanyak. Pasalnya umat yang tinggal atau berdomisili di Paroki Cewonikit umumnya berasal dari luar Kota Ruteng. Berdasarkan hasil pendataan umat pada tahun 2021, didapati jumlah umat Paroki Santo Vitalis Cewonikit kurang lebih sekitar 6.673 jiwa, yang terdiri dari 1.559 kepala keluarga. Umat ini tersebar di 8 wilayah atau lingkungan yang mencakupi 44  Kelompok Basis Gerejani (KBG).

Adapun umat di Paroki Cewonikit bermata pencaharian yang beragam; ada umat yang bekerja sebagai petani, pegawai, guru, dosen, kontraktor, politikus, peternak, pengrajin, wiraswasta, dan lain-lain. Selain pekerjaan yang bervariasi, umat yang tinggal di Paroki Cewonikit berasal dari beberapa daerah di luar Manggarai, seperti Bajawa, Maumere, Larantuka, Jawa, Bali, dan Tionghoa.

Hal ini terjadi karena faktor pekerjaan, hubungan perkawinan, kepemilikan tanah dan pendidikan. Tentunya kebudayaan yang heterogen ini tidak terlepas dari sistem budaya masyarakat Manggarai yang terbuka dalam menerima orang luar untuk mendiami suatu wilayah tertentu.

Di wilayah Paroki Cewonikit, ada pula umat beragama lain seperti agama Islam, Kristen Protestan dan Hindu. Keberagaman ini dijalankan dengan tata aturan yang baik. Hal ini terlihat dalam kehidupan sosial sehari-hari yang aman dan tenteram. Toleransi antar umat beragama terlaksana dengan semangat kebersamaan sehingga mampu memperkaya satu sama lain.

Walaupun terletak di Kota dengan segala kemajemukan, namun umat di Paroki Cewonikit tidak pernah tercerabut dari akar budaya Manggarai. Hal ini secara praktis dapat dilihat dari Paroki Cewonikit yang memiliki empat Kampung (beo), yakni Kampung Lawir, Kampung Pau, kampung Ngawe, Kampung Lempe. Keempat kampung ini masing-masing memiliki kekayaan dan unsur budaya, seperti rumah adat (mbaru gendang), halaman kampung (natas agu compang), alat musik daerah (gong agu gendang), dan sebagainya. Selain keberadaan harta benda budaya, penggunaan bahasa Manggarai dan ritus-ritus adat juga masih kental dilakukan. Bahkan hal ini tergambar jelas dalam Misa Inkulturasi.

Kesadaran religius umat Paroki Cewonikit tampak nyata dalam penghayatan iman melalui pola hidup harian. Sekurang-kurangnya umat secara aktif mengambil peran dalam Misa mingguan dan pelbagai program paroki lewat KBG dan wilayah. Selain itu, ada pula sebagian umat yang sangat aktif terlibat dalam kelompok-kelompok rohani kategorial seperti Legio Maria, Kelompok Tritunggal Mahakudus (KTM), Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria (THS-THM), Orang Muda Katolik (OMK), Serikat Kerasulan Anak Misioner (Sekami), dan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI).

Akses pendidikan di Paroki Cewonikit juga sangat baik. Beberapa sekolah yang terdapat di wilayah Paroki Cewonikit adalah TKK St. Maria Fatima, TKK St. Dominikan, SDK St. Nikolaus Cewonikit, SDI Dongang, SDI Cunca Lawir, SMP St. Don Bosco, SMA St. Don Bosco, SMA Primadonna, dan SMA Negeri 2 Langke Rembong. Keberadaan sekolah-sekolah ini memudahkan para pelajar untuk bersekolah mulai dari tingkat TK/Paud sampai tingkat SMA di wilayah paroki ini. Walaupun begitu, banyak pula anak-anak yang bersekolah di wilayah paroki lain. Dengan ketersediaan sarana pendidikan yang memadai, tingkat kesadaran dan iman umat pun berada pada taraf yang baik. Para pelajar dibina dalam berbagai aspek. Keaktifan mereka di Paroki tampak dalam keterlibatan kegiatan-kegiatan rohani seperti menanggung koor, menjadi putri/i altar, membersihkan lingkungan Gereja dan menjadi petugas liturgi pada hari Minggu.

Buah dari proses pendidikan dan pendalaman iman tampak dalam banyak hal, seperti pertumbuhan jumlah umat yang kian pesat, tingkat keaktifan umat terus terjaga dalam pelbagai program paroki, kehidupan sosial yang tenteram, kehidupan ekonomi umat yang rata-rata cukup baik, dan keberhasilan anak-anak paroki dalam mencapai cita-cita. Pada saat ini Paroki St. Vitalis Cewonikit telah melahirkan 20 pastor, 8 suster, 8 frater, dan puluhan seminaris. 

  • GALERI CEWONIKIT

Gereja Kedua Paroki St. Vitalis Cewonikit yang digunakan pada tahun 1983- 2004

Gereja baru Paroki St. Vitalis Cewonikit yang diresmikan pada tanggal 19 Juli 2015

Gua Maria Bunda Hati Kudus Cewonikit (atas) dan Ruang Doa Adorasi Cewonikit (bawah)yang diresmikan oleh Mgr. Siprianus Hormat pada 25 Maret 2022

Ruang Adorasi Lantai I Gereja Cewonikit

Wajah baru Pastoran Paroki St. Vitalis Cewonikit yang dibangun oleh RD. Ardi Obot

        

Narasi ini merupakan kumpulan informasi yang ditulis dan diedit oleh Fr. Hedwig Sunardy Nambung. Adapun pihak-pihak yang menjadi sumber informasi dalam penulisan narasi ini ialah Kantor Sekretariat Paroki St. Vitalis Cewonikit, Kantor Sekretariat Paroki St. Nikolaus Golodukal, Bpk. Yohanes Usman, Bpk. Andreas Gandi, Bpk. Willy Grasias, Bpk. Vinsen Nambung.