Misa Minggu Ketiga Dalam Bahasa Manggarai Koor Dari Kelompok St. Yosef Wilayah VII

Ruteng. Parokicewonikit.com – Pada Gereja dalam wilayah Keuskupan Ruteng yang meliputi wilayah administrasi Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur NTT pada Minggu ketiga setiap bulan sepanjang tahun dilaksanakan Misa dalam nuansa Manggarai, teks Misa maupun Lagu serta tata busana peserta ibadah.

Hari ini, Minggu 17/7/2022 di Gereja St. Vitalis Cewonikit pada Misa ke 2 yang dipimpin Pastor Paroki Cewonikit RD. Obot, Pr dilaksanakan Misa dalam nuansa Manggarai, paduan suara (koor ) ditanggung oleh Kelompok st. Yosef Wilayah VII.

Dengan apik mereka membawakan lagu mulai dari pembukaan sampai lagu penutup. Paduan Suara kelompok St. yosef ini dirigennya adalah Venan Semaun. Sementara personilnya 23 orang dengan rincian delapan orang alto, delapan orang sopran, empat orang tenor dan tiga orang bas.

Kepiawaian mereka menghantar umat untuk beribadah pada Tuhan tidak terlepas dari kekompakan mereka dalam membawakan lagu-lagu, bagi mereka menyanyi di Gereja bukan sekedar hoby melainkan ada nilai lain yaitu menghantar orang untuk memuji dan memuliakan Tuhan Sumber kehidupan manusia;

“ Menyanyi di Gereja bukan sekedar hoby menyanyi, melainkan ada nilai lain yang menjadi tujuan yaitu menghantar umat untuk memuji dan memuliaan Tuhan, dan untuk ini sangat dibutuhkan ddikasi dari anggota “ kata Yul Keon, sekretaris kelompok St. Yosef.

Kata dia, selama ini kami juga bergabung dalam koor wilayah dan koor wilayah ini melayani misa pada perayaan besar saja seperti Paskah, Natal dll. namun menurutnya pada Misa hari Minggu biasa kehadiran paduan suara juga sama pentingnya, yaitu memuji dan memuliakan Tuhan.

“ Selama ini pelayanan koor hanya pada Misa pada perayaan besar keagamaan seperti Paskah, Natal, dan sebagainya, sementara pada perayaan hari Minggu biasa hamper pasti tidak ada paduan suara, nyanyian misa dipandu oleh dirigen umat, mari kita mulai perayaan hari Minggu dengan koor “ ajaknya.

Yul Keon sekretaris kelompok St. Yosef wilayah VII ( foto WG )

Terkait dengan paduan suara dalam nuansa Manggarai  mari kita melihat “ Déré Serani “ nama sebuah buku kumpulan lagu lagu dalam bahasa Manggarai Flores NTT. Dere Serani adalah simbol gereja yang masuk di dalam budaya lokal. Déré Serani menjadi pembentuk identitas yang kuat antara kekatolikan dan kemanggaraian. Dengan Déré Serani budaya lokal masuk ke dalam ruang sakral baru, ke dalam wilayah agama/Gereja Katolik.

Sacrosanctum Concilium (1963) yaitu Konsititusi tentang Liturgi Suci. Salah satu dokumen penting yang dihasilkan konsili Vatikan II. Dokumen ini merekomendasikan perubahan liturgi Gereja, dimana Gereja menginginkan agar umat terlibat lebih aktif di dalam liturgi dan Gereja sendiri diberanikan untuk menerjemahkan liturgi Latin ke dalam budaya dan bahasa lokal. Perubahan teologi, liturgi dan hukum Gereja yang fundamental pada konsili ini  menjadi arah baru Gereja Katolik.

Teologi Vatikan II juga menjadi sangat ramah dengan dunia dan kebudayaan lokal. Perubahan ini,  menjadi angin segar bagi gereja-gereja lokal di seluruh dunia. Bagi orang Manggarai, tata liturgi yang inkulturatif sudah mulai dipraktikkan dan dikembangkan sejak beberapa dekade sebelum konsili Vatikan II.

Demikian salah satu bagian Adaptation and Transformation of Traditional Songs Towards Catholic Liturgical Hymns in Manggarai Flores Yohanes S. Lon dan Fransiska Widyawati, Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, dalam JURNAL KAWISTARA VOLUME 10 No. 1, 22 April‑ 2020

RD. Ardi Obot sedang memberikan komunio dalam pakaian misa bernuansa Manggarai ( Foto WG )

Sementara dalam kotbahnya yang dibawakan dalam bahasa Manggari RD Ardi Obot menyitir Kelahiran Ishak adalah suatu muzizat.  Ishak dilahirkan oleh seorang ibu yang sebelumnya dikatakan sebagai wanita yang mandul (Kej. 11:30). Ia dilahirkan pada saat ayahnya berusia seratus tahun dan ibunya berusia sembilan puluh tahun (Kej. 17:17; 21:5). Pada saat itu Abraham dan Sara telah  lanjut umurnya  dan Sara sudah mati haid (Kej. 18:11). Dari sudut pandang  manusia Sara tidak mungkin lagi bisa melahirkan anak bagi Abraham karena ia mandul, telah lanjut usia dan sudah mati haid. Tetapi bagi Allah tiada yang mustahil. Kelahiran Ishak adalah suatu mujizat dari Allah.

Kelahiran Ishak adalah karena Tuhan memperhatikan, melakukan apa yang dijanjikan-Nya, dan bertindak pada waktu-Nya.  Dalam Kejadian 21:1-2 tiga kali nama Tuhan disebutkan, yaitu: “TUHAN memperhatikan Sara” (Kej. 2:1a), “TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya” (Kej. 2: 1c), dan “pada waktu yang ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepada-Nya” (Kej. 2: 2c).

“ Ketiga frasa itu menunjukkan bahwa kelahiran anak Abraham dan Sara  itu tidak dapat dilepaskan dari dimensi Allah, bahwa Ia memperhatikan, melakukan apa yang dijanjikan-Nya dan bertindak pada waktu yang ditentukan-Nya  “ katanya

Kelahiran Ishak menyatakan bahwa Tuhan adalah setia dan apa yang difirmankan-Nya pasti akan digenapi.   Dalam kedua ayat dalam Kejadian 21:1-2 tersebut tiga kali peristiwa kalahiran Ishak dihubungkan dengan firman-Nya, yaitu: “seperti yang difirmankan-Nya” (Kej. 21:1b), “seperti  yang dijanjikan-Nya” (Kej. 21:1c), dan “sesuai dengan firman Allah” (Kej. 21:2c). Tuhan telah berfirman kepada Abraham bahwa ia akan memiliki keturunan dari Sara, istrinya.  Meskipun Abraham harus menunggu dalam waktu yang lama, yaitu sekitar 25 tahun, namun apa yang dijanjikan-Nya itu akhirnya digenapi oleh-Nya.  Janji  itu dipenuhi oleh Allah bukan karena Abraham sempurna di dalam ketaatannya kepada-Nya, sebab di dalam realita ia memiliki banyak kelemahan dan kegagalan. Janji itu dipenuhi karena Allah adalah setia dan Ia senantiasa melakukan apa yang telah difirmankan-Nya.

“ Kelahiran Ishak diresponi dengan ketaatan.  Ketaatan itu ditunjukkan Abraham dengan menamai anak yang dilahirkan Sara baginya itu Ishak. Itulah nama yang diberikan oleh Allah  dan Abraham taat kepada –Nya.  Selain itu, Abraham menyatakan ketaatannya dengan menyunatkan anak itu ketika ia berumur delapan hari, seperti yang diperintahkan Allah kepada-Nya. Perintah itu diberikan Allah kepada Abraham pada saat Ia mengadakan perjanjian dengannya.  Kelahiran anaknya itu diresponi Abraham dengan ketaatan kepada Allah dengan menamai anak itu Ishak dan menyunatkannya pada hari kedelepan “ jelasnya.

Kelahiran Ishak membuat tertawa.  Nama “Ishak” berarti “tertawa.”   Sara berkata: “Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku” (Kej. 21:6).  Lagi katanya, “Siapakah tadinya yang dapat mengatakan kepada Abraham: Sara menyusui anak? Namun aku telah melahirkan seorang anak laki-laki baginya pada masa tuanya’ (Kej. 21:7).  

Allah telah membuat Sara dan Abraham tertawa sehubungan dengan kelahiran Ishak.  Pada awalnya mereka tertawa karena tidak percaya.  Ketika Allah memperbarui perjanjian-Nya di Kejadian 17, Abraham yang sudah tua itu tertawa serta berkata di dalam hatinya:

 “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak? Ketika Allah memperbarui kembali perjanjian-Nya di Kejadian 18, Sara yang sudah tua itu juga tertawa dalam hatinya dan berkata: “Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedang tuanku sudah tua?  Setelah Ishak lahir, Allah mengubah tertawa ketidakpercayaan mereka menjadi tertawa gembira “ tutupnya.

Redaksi