Pimpin Misa kerahiman Ilahi, Romo Eman Ajak Umat Semakin Percaya Pada Yesus yang Bangkit.

Ruteng. Parokicewonikit.com –  Umat Paroki Cewonikit merayakan Ekaristi Minggu Kerahiman Ilahi Paskah II di Gereja paroki Cewonikit. Perayaan yang ditetapkan oleh Paus Yohanes Paulus II sejak tahun 2000 saat kanonisasi Sta. Faustina ini, dipimpin oleh Romo Eman Haru, Pr.

Dalam pengantar awal misa, Rm. Eman menekankan semangat Paskah yang menjadi fondasi kehidupan.

“ Semangat paskah kiranya mendorong kita sekalian untuk membarui semangat kita dalam menghayati iman yang diwujudkan dalam tugas dan karya sehari-hari. Para murid perdana yang diwakili Rasul Petrus telah menunjukkan semangat paskah dengan menjadikan Yesus sebagai fondasi hidupnya. Ketika hidupnya berakar pada Yesus yang bangkit, ia dapat memancarkan kuasa Yesus melalui karya penyembuhan. Alhasil banyak orang menjadi percaya.” Kata dosen STIPAS St. Sirilus Ruteng ini.

Menurutnya, semangat Paskah ini melahirkan kepercayaan seperti kisah Thomas dalam Injil yang dibacakan hari ini. Ia menguraikan bahwa mulanya rasul Thomas tidak percaya, ragu-ragu dan bimbang ketika rasul lainnya menyampaikan berita penampakan Yesus. Namun setelah dia sendiri bertemu langsung dengan Yesus, segala-galanya berubah. Ia menjadi rasul yang sungguh percaya. Sebuah pengakuan tulus lahir dari kedalaman hatinya dengan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Allah.

Melanjutkan kotbahnya, Romo Eman memberikan dua pelajaran berharga dari sosok Thomas. Pertama, iman kita akan Kristus Yesus berkembang dalam proses. Iman kita akan Kristus Yesus berawal dari iman yang diwariskan dan dibangun secara kolektif. Kemudian iman itu berkembang menuju iman pribadi yang lebih matang.

Pelajaran kedua yang ditekankannya yaitu keraguan Rasul Thomas melahirkan peneguhan iman buat kita dalam Sabda “Berbahagialah orang tidak melihat namun percaya”. Yesus menyapa manusia sepanjang zaman, kita semua sebagai orang yang berbahagia. Yesus mengatakan demikian untuk menegaskan bahwa bukan hanya para rasul yang mengalami secara langsung perjumpaan dengan Yesus yang bangkit yang berbahagia, melainkan kita semua, sejauh kita berpegang teguh pada ajaran dan kesaksian para rasul itu.

Bagi kita zaman sekarang kiranya tidak relevan lagi untuk mencari bukti-bukti fisik soal kebenaran kebangkitan Kristus. Yang paling penting bagi kita ialah bagaimana kita hidup sesuai dengan ajaran Yesus sendiri. Kita akan disebut yang berbahagia kalau kita setiap saat seperti Rasul Thomas dengan tulus berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku.”

RD Eman saat memberi komuni pada umat ( Foto WG )

Romo Eman juga menyadari bahwa keraguan juga menjadi bagian dari kehidupan manusia.

“ Tidak jarang kita ragu-ragu seperti Rasul Thomas. Kita meragukan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Kita meragukan bimbingan dan penyertaan Tuhan terutama pada saat kita berada dalam situasi sulit. Kalau kita terus tinggal dalam keraguan apalagi kalau berujung pada keputusasaan, maka sebetulnya iman kita sedang tidak berkembang atau mungkin sedang berjalan mundur. Ini adalah indikasi kekerdilan iman kita.” ungkapnya.

Namun, ia memberikan keyakinan bahwa keraguan ini akan hilang jika umat percaya kepada Yesus yang bangkit. Iman akan terus berkembang menuju kepada kematangan. Karenanya, ia mengajak agar umat untuk menjadikan Tuhan yang bangkit sebagai fondasi atau dasar hidup kita,

 “Hanya dengan demikian kita pantas disebut bahagia oleh Yesus. Berbahagialah kita karena meskipun kita tidak melihat Dia tetapi kita percaya akan penyelenggaraan dan kuat kuasaNya. Dalam iman yang teguh kita menyerahkan diri kita setiap hari kepada Yesus yang bangkit dan bersama Rasul Thomas kita mesti selalu berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku,” tegasnya diakhir kotbahnya.

Redaksi /Willy Jebeot

,