(Narasi Pengalaman Misi di Colombia Dan Venezuela) POR LOS CAMINOS DE MISIÓN

Oleh Anselmo Baru, Cmf Anak Kampung Lawir, Misionaris Claretian, bekerja di Venezuela

Malam 4, january 2022, sekitar pukul 20:00 Waktu Venezuela, ada telfon masuk melalui jejaring sosial facebok dari bapak Willy Gracias. Terdengar samar, sapaan dan khas logat Ruteng yang kental: “Selamat Natal tahun Baru pater”. Saya pun menyapa sembari menyampaikan ucapan selamat natal dan tahun baru. Seperti biasa, saya menanyakan keadaan Ruteng sekedar untuk melepas kerinduan akan kampung halaman. Bapak Willy juga menceritakan suasana natal di Ruteng, yang karena situasi pandemi covid 19, meski  kehadiran umat dibatasi, tapi tetap kusuk.  

Obrolan pun semakin larut, dan berujung pada cerita tentang bagaimana kemeriahan Natal di Paroki Cewonikit. Yah meriah karena natal kali ini, meski di tengah kondisi pandemi, masih tetap meriah, apalagi dengan kehadiran Romo Paroki yang baru, Romo Ardi Obot.  Spontan bpk Willy menanyakan, pater kenal kah Romo Ardi? Saya sendiri secara pribadi tidak mengenal romo Ardi,

Ada yang menarik dan menyita perhatian saya, ketika bapak Willy mengkisahkan bahwa, kehadiran Romo Ardi sebagai Romo paroki, memberi warna dan gerak baru dalam karya pelayanan umat. Di tengah zaman yang diwarnai dengan perkembangan dunia digital yang semakin mewarnai kehidupan umat, maka media online menjadi salah satu sarana bukan hanya sebagai media pemberitaan, tapi juga sebagai media yang mendukung karya pewartaan gereja. Karena itu, bapak Willy, memperkenalkan kepada saya bahwa paroki cewonikit sudah memiliki media online: Parokicewonikit.com, sambil mengajak saya untuk coba membuka linknya dan turut berbagi pengalaman melalui tulisan, sekedar untuk berbagi kisah dan pengalaman.

Karena itu, kali ini, saya ingin berbagi kisah pengalaman menjadi misionaris. Saya menyadari, pergumulan iman pada masa kecil sampai masa remaja yang saya lewarti di lingkungan paroki cewonikit: sekolah minggu yang dibimbing kala  itu oleh suster Mikelis, PRR,  Romo Yosef Tarong, PR, dan tak kala penting Om Hans (koster dan sekaring kali menjadi sekretaris di sekretariat paroki), juga teman-teman dan umat paroki cewonikit, turut serta membentuk iman dan pilihan saya untuk menjadi misionaris.

Karena itu, tulisan kecil ini, Por Los Caminos de Mision, di sepanjang jalan misi, bukanlah sebuah teori tentang karya misi, tapi lebih pada pengalaman pribadi dan pergulatan iman tentang kehidupan sebagai misionaris yang berkarya di Colombia dan Venezuela. Tulisan ini adalah sebuah karya daur ulang. Sebelumnya telah di publikasikan di majalah FLASH (Flame Of Claretian Sharing, edisi desember 2021). 

Dari Indonesia untuk Venezuela Dan Colombia

Dilahirkan dalam keluarga kecil, di kampung Lawir, saya dibesarkan dalam tradisi katolik yang kental. Saya menjalani pendidikan dasar di SDI Cunca Lawir, lalu sekolah menengah pertama di SMP Negeri satu Ruteng dan SMA setia baki Ruteng. Setelah menamtkan pendidikan SLTA, tahun 1998, saya masuk untuk menempuh pendidikan di seminari Claretian, Kupang.

Setelah menyelesaikan study filsafat di Kupang, NTT, tahun 2005 saya di utus untuk bermisi di Venezuela. Karena saya harus menyelesaikan study teologi, pada tahun yang sama saya berpindah ke Colombia untuk mengikuti kursus bahasa spanyol dan dan menyelesaikan study teologi di Universitas San Buenaventura, Bogota, Colombia. Ditabiskan Imam pada 4 December 2011 di Medellin, Colombia.

Pada masa-masa akhir sebagai diakon, dan 3 bulan pertama sebagai imam baru, saya bertugas di wilayah Chocó, Colombia. Tepatya di Quibdo, sebuah kota kecil berpenduduk Afro. Wilayah yang terkenal dengan kekayaan alam yang melimpah, tapi serentak menjadi salah satu wilayah dengan penduduk miskin di negara tersebut.

Jejak karya misi Claretian di sana, sudah lebih dari seabad. Karena sumber daya alamnya yang melimpah wilayah ini juga menjadi salah satu wilayah yang harus menanggung penderitaan karena konflik bersenjata. Di sana misi Claretian, selain menangani paroki, pendampingan para petani dan pengunsi yang menjadi korban dari konflik senjata. Perhatian akan pendidikan tinggi menjadi pilihan misi, sehingga di kota kecil Quibdo, misi Claretian juga berkecimpung dengan dunia pendidikan tinggi, universitas, untuk menjawab  kebutuhan pendidikan penduduk di sana. 

Selama kurang lebih tujuh bulan saya bertugas di Quibdo, saya bergelut dengan pastoral biblica (pastoral kitab suci).  Bersama satu rekan pastor yang adalah ahli kitab suci, bersama-sama mendampingi kelompok-kelompok kecil yang berminat untuk belajar Kitab suci. Mayoritas ibu-ibu. Metode yang digunakan  adalah “lectura popular de la biblia”. Sebagai sarana penunjang,  kami membangun muestra bíblica, semacam sarana pedagogi berupa maket dan juga hal-hal atau informasi dasar untuk memudahkan pemahaman tentang kitab suci. Sarana ini sangat membantu untuk membaca dan memehami sabda Tuhan dari konteks dan realitas pembaca yang lingkungannya diwarnai konflik bersenjata dan kemiskinan yang masif menuju sebuah proses resiliencia dan pembebesan.  

‘Mengarungi Orinoco’

Quibdó, Choco Colombia memang begitu memikat hati. Tapi hidup sebagai misionaris harus bersedia di utus ke mana saja. Gaya hidup itineran ini menjadikan seorang misionaris harus mampu untuk memiliki spritualitas lepas bebas, termasuk ketika situasi dan kedekatan dengan umat membuat kita betah pada suatu tempat tugas dan harus meninggalkannya karena di utus ke tempat lain.

Setelah beberapa bulan di Choco, Colombia, Saya di utus kembali ke Venezuela, tepatnya pada bulan februari 2012, untuk bermisi di Delta Amacuro, Venezuela. Di tempat ini, kami melayani beberapa komunitas suku Indian Warao di perariran Sungai Orinoco.

Medan misi yang cukup menantang, mengarungi sungai Orinoco dengan perahu motor untuk melayani umat-umat memiliki kisah yang menakjubkan. Paling tidak membuka cakrawala bahwa karya misi adalah sebuah opsi untuk berada dan hidup bersama umat, mengambil bagian dalam kegelisahan mereka.

Selama menjalani misi di Delta Amacuro (2012-2014), ada banyak kisah menakjubkan. Di sana bukan hanya merayakan ekaristi, tapi juga pendampingan umat dalam proyek pertanian (seguridad alimentaria) dan juga mengembangkan kerajinan tangan dari bahan-bahan local budaya Warao sebagai sesuatu yang bernilai ekonomis.

Ada misi kesehatan, yang bekerja sama dengan dokter-dokter dan juga mahasiswa kedokteran di beberapa universitas ternama di ibu kota Caracas, Venezuela. Bersama para dokter dan relawan, kami membantu masyarakat suku indian dengan pengobatan gratis. Misi ini sulit dilanjutkan selama beberapa tahun terakhir, karena krisis Venezuela yang membuat kesulitan untuk hal-hal logistik dalam pelayanan misi.

Dari sini saya belajar bahwa proses iman atau keagamaan dari sekelompok masyarakat selalu berjalan berbarengan dengan proses sosial dan budayanya. Jadi iman yang diwartakan harus memberi dampak bukan hanya dalam kehidupan menggereja, tapi juga dalam kehidupan sosial, ekonomi dan budaya para pemeluknya. Yang menjadi jiwa dan isi dari karya misi dan pelayanan adalah mewartakan Injil, kabar baik dan sukacita yang datang dari Allah dalam konteks dan realitas yang dijumpai. Dengan demikian warta keselamatan itu bukan hanya más alla (sesuatu yang jauh di sana), tetapi más aca (sesuatu yang dekat) dan dimulai dari sini menuju kepada yang akan datang. Artinya keselamatan itu bukan hanya soal dunia akhirat, tapi harus dimulai dari sekarang.

‘Desde la Periferia’

Sejak 2014 saya berpindah tugas, ke paroki Claret, terletak di Provinsi Bolivar, masih di wilayah Timur Venezuela. Paroki yang melayani  lebih kurang 5.000 jiwa, terletak di pinggiran kota san Felix. Paroki ini sudah berusia 45 tahun pendiriannya. Memiiki dinamika pastoral yang menarik, di mana kaum awam memiliki peran penting dalam karya pastoral dan evangelisasi.

Ekonomi umat bersumber dari pekerja formal, kususnya yang bekerja di perusahaan-perusahan pemerintah yang mengolah biji besi, karena wilayah Timur Venezuela, terkenal dengan potensi dan penghasil biji besi dan mineral lainnya. Di sisi lain, kita juga menemukan penopang ekonomi penduduk dari sector informal. 

Secara umum, krisis hebat yang melanda Venezuela selama beberapa tahun terakhir, mengakibatkan ekonomi masyarakat terpuruk. Banyak yang kehilangan pekerejaan. Kelaparan kita jumpai dibanyak tempat. Situasi ini semakin runyam kala pandemi melumpuhkan dan membatasi semua ruang gerak ekonomi.

Dalam konteks dan situasi seperti ini, sebagai imam muda, saya merefleksikan apa arti merayakan ekaristi -yang hakitkanya adalah berbagi- di tengah situasi krisis. Hal ini menggugah dan merubah wajah misi, bahwa misi gereja harus membebaskan termasuk dalam konteks sosial. Gereja dituntut untuk mengambil bagian dalam kegelisahan yang dialami oleh umatnya.

Selain pastoral katekese sakramen-sakramen, pastoral kaum muda, kelompok-kelompok doa, dalam semangat mision compartida (misi bersama), bersama kaum awam, beberapa LSM, dan juga partisipasi umat, setiap hari sabtu, paroki mengadakan pemberian makanan untuk anak-anak-anak dari keluarga yang tidak mampu di berbagai wilayah yang menjadi tanggung jawab paroki. Setiap kegiatan mampu melayani lebih kurang 250 anak.

Di tengah krisis yang masif, akses untuk pelayanan kesehatan sangat mahal, dengan bantuan bereberapa LSM, di paroki juga dibuka klinik kecil untuk melayani umat yang yang tak mampu secara ekonomi.  

Kegiatan-kegiatan sosial karitatif tersebut jelas tidak memberi solusi terhadap masalah kelaparan dan masalah kesehatan yang dialami, tetapi paling tidak Gereja hadir  bersolider dan menjadi bagian dari penderitaan yang dialami masyarakat. Gereja yang terlibat.

Realitas ini menjadikan misi Gereja menjadi kontekstual dengan realitas sosial yang dialami masyarakat di sekitarnya. Gereja harus terlibat, keluar dari zona nyaman, menjumpai realitas kehidupan sosial umat. Spirit ini sesuai dengan warta yang digaungkan oleh paus Fransiskus yang dituangkan dalam exortacion Apostolica Evangelii Gaudium, tentang semangat transformasi misioner Gereja:

“Sabda Allah senantiasa menunjukkan pada kita bagaimana Allah menantang mereka yang percaya kepada-Nya “untuk bergerak keluar.” Abraham menerima panggilan untuk pergi ke negeri baru (bdk. Kej. 12:1-3). Musa mendengar panggilan Allah, “Pergilah, Aku mengutus engkau” (kel. 3: 10) dan menuntun bangsanya menuju tanah terjanji (bdk. Kel 3:17). Kepada Yeremia, Allah bersabda, “kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi” (Yer. 1:7). Di zaman kita perintah Yesus untuk “pergi dan menjadikan murid” tampak rencana-rencana dan tantangantantangan yang selalu baru bagi tugas perutusan penginjilan Gereja, dan kita semua dipanggil kepada tugas perutusan baru “bergerak keluar” ini. Setiap umat Kristiani dan setiap komunitas harus mencari dan menemukan jalan yang ditunjukkan Tuhan, tetapi kita semua diminta untuk mematuhi panggilan-Nya untuk keluar dari zona nyaman kita untuk menjangkau seluruh “periferi” yang memerlukan terang Injil” (No. 20).

Pergi  ke luar, berarti menjumpai realitas konkrit yang ada, bergumul di dalamnya, mengambil inisiatif agar mereka yang menderita juga menemukan pembebasan dari situasi yang membelenggu:

Gereja yang “bergerak keluar” adalah komunitas para murid yang diutus yang mengambil langkah pertama, yang terlibat dan mendukung, yang berbuah dan bersukacita. Sebuah komunitas yang mewartakan Injil mengetahui bahwa Tuhan telah mengambil prakarsa, Dia telah terlebih dahulu mengasihi kita (bdk. 1Yoh. 4:19), sehingga kita dapat bergerak maju, berani mengambil prakarsa, keluar kepada yang lain, mencari mereka yang telah menjauh; berdiri di persimpangan-persimpangan jalan dan menyambut yang tersingkir. Komunitas semacam itu tak pernah kehabisan semangat untuk menunjukkan kemurahan hati, buah dari pengalamannya sendiri akan kekuatan belas kasih Bapa yang tanpa batas…(No. 24).

Mengikuti dan mengalami, dimensi kemuridan dalam hidup misionaris

Pengalaman misionaris, memiliki suka dan dan duka. San Antononio Maria Claret, menyadarai betul akan hal ini, karena itu ia mendefinisikan semangat seorang Putera Hati tak Bernoda Maria: 

“…Tidak ada apa-apa yang mengecilkan hatinya. Dia bersukacita dalam kekurangan-kekurangan. Dia memeluk pengorbanan-pengorbanan. Dia memasuki pekerjaan-pekerjaan. Dia merasa senang dan rela dalam fitnahan-fitnahan. Dia bergembira dalam siksaan-siksaan dan kesakitan” yg dideritanya dan dia bermegah dalam salib Yesus Kristus. Berusaha selalu dan hanya demi kemuliaan Allah yang lebih besar dan keselamatan manusia. Pikiran yang satu-satunya adalah bagaimana dia akan mengikuti dan meneladani Kristus di dalam berdoa, bekerja dan menderita”.

Seperti yang didefinisikan San Antonio Maria Claret, menjadi misionaris adalah sebuah pilihan hidup. Di sana pasti akan mengalami segala tantangan. Karena itu, Claret dalam definisi tentang Putera hati tak bernoda Maria, menampilkan secara tegas dimensi kemuridan: “Pikiran yang satu-satunya adalah bagaimana dia akan mengikuti dan meneladani Kristus di dalam berdoa, bekerja dan menderita”.

Meneladani kristus dalam kehidupan misionaris, bukan hanya bagaimana kita berbicara tentang Sabda Tuhan (rumasan dan pemikiran teologis), tapi lebih pada bagaimana Sabda itu diterjemahkan dalam aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan demikian Sabda Tuhan itu menjadi sabda yang hidup, yang mampu mentransformasi kehidupan beriman dan memiliki dampak sosial.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya terpikat dengan kutipan yang ditampilkan penginjil Yohanes 1, 38: “… ¿Maestro dónde vives?”, Guru di manakah engkau tinggal? Kutipan tadi kita bisa temukan dalam perikop kisah panggilan para murid Yesus (Yohanes 1, 35-51).  Menarik bahwa, kisah para murid Yesus yang pertama, mereka mengikuti Yesus, karena diperkenalkan oleh Yohanes Pembabtis sebagai Anak domba Allah. Mendengar itu, kedua murid itu bergegas mengikuti Yesus. Lalu Yesus berpaling dan menanyakan kepada mereka: ¿Que buscan? (Apa yang kamu cari?), dan mereka menjawab, ¿maestro donde vives?  Mendengar pertanyaan itu, Yesus tidak memberikan jawaban di mana alamat rumah atau tempat ia tinggal. Tapi ia mengajak mereka untuk datang dan lihat sendiri. Dan yang terjadi bahwa, mereka mengikutnya dan kemudian hari itu mereka tinggal bersama dengan Yesus.

Kisah di atas semakin menarik kala ditempatkan dalam bingkai hidup sebagai seorang misionaris. Seperti kisah para murid di atas, mengikuti Yesus bukanlah hal yang sekali jadi, tapi sebuah proses perjumpaan dan pengenalan yang terus menerus. Sang guru tidak memberikan jawaban yang sekali jadi pada mereka, tapi mengundang mereka untuk mengikuti dan mengalaminya sendiri.

Demikian pun mengikuti Yesus dalam hidup sebagai seorang misionaris, adalah sebuah pilihan hidup untuk mengikuti sang guru. Ada banyak suka dan duka dalam pergumulan hidup misionaris, tapi kesetiaan pada tujuan “mengikuti sang guru” menjadikan hidup bermakna. ¿Maestro dónde Vives? Adalah pertanyaan yang membawa pada sebuah perjumpaan dengan sang guru, bukan hanya dalam keheningan doa, tapi juga pada realitas sosial yang dijumpai, sebab Tuhan juga terus berbicara melalui realitas sosial di sekitar kita.

Selamat Natal dan Tahun Baru untukmu semua di Paroki Cewonikit