Perayaan Misa Minggu Pertama Masa Adven di Gereja Cewonikit

Ruteng. Parokicewonikit.com –  Masa Liturgi Adven menandai masa persiapan rohani umat beriman sebelum Natal. Adven dimulai pada hari Minggu terdekat sebelum Pesta St. Andreas (Rasul) pada setiap 30 November. Masa Adven berlangsung selama empat hari Minggu dan empat minggu persiapan, meskipun minggu terakhir Adven pada umumnya terpotong dengan tibanya Masa Raya Natal.

Mengawali itu, di Gereja St.Vitalis Cewonikit Ruteng pada Misa Kedua Minggu 28/11/2021 dilaksanakan Misa Mingguan yang dipimpin Pastor Paroki Cewonikit. RD. Ardi Obot, PR yang dihadiri sebagian umat Paroki Cewonikit.

Kehadiran sebagian umat di Gereja demi mentaati Instruksi Pastoral Keuskupan Ruteng No. 414/II.1.2/XI/2021. Hal Pembatasan Pelayanan Pastoral Pada Masa Advent dan Natal, yang mengacu pada Instruksi Mendagri no 62 Tahun 2021 yang diterbitkan pada tanggal 22 Nopember 2021, sehingga pelayanan masa Advent dan Natal tahun ini dibatasi, pada point tertulis perayaan misa hariandan hari Minggu dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat sebagaimana instruksi sebelumnya.

Menanggapi hal itu Romo Ardi dalam Kotbahnya menyinggung soal Instruksi itu, beliau menyampaikan bahwa sekarang telah keluar Instruksi baru yang isinya larangan untuk berkumpul, namun kita mengalami keajaiban dari Tuhan, program Misa kelompok sudah diselesaikan.

“ Sebelum Insruksi ini dikeluarkan kita di Paroki Cewonikit selangkah lebih maju, kita sudah menyelesaikan misa pada 41 kelompok dalam delapan wilayah pada Paroki ini. Saya merasa ini sebuah keajaiban. Kasih Tuhan telah membimbing kita sehingga semua kelompok sudah melaksanakan giat Misa ini “ tuturnya.

Pastor Ardi sangat bangga, dengan terlaksananya misa kelompok itu serta antusiasme umat yang sungguh luar biasa. Yuhan yang bertahta di Surga melimpahkan rahmat dan berkatnya untuk 41 KBG di Paroki St. Vitalis Cewonikit.

Terkait dengan masa adventus parokicewonikit.com mencoba mencari sumber yang lain sehingga memperluas wawasan kita memahami  Masa Advent sebagai masa persiapan untuk perayaan Natal yang akan kita rayakan nanti.

Masa Adven mengalami perkembangan dalam kehidupan rohani Gereja. Sejarah asal-mula Adven sulit ditentukan dengan tepat. Dalam bentuk awalnya, yang bermula dari Perancis, Masa Adven merupakan masa persiapan menyambut Hari Raya Epifani, hari di mana para calon dibaptis menjadi warga Gereja. Jadi persiapan Adven amat mirip dengan Prapaskah dengan penekanan pada doa dan puasa yang berlangsung selama tiga minggu dan kemudian diperpanjang menjadi 40 hari.

Pada tahun 380, Konsili lokal Saragossa, Spanyol menetapkan tiga minggu masa puasa sebelum Epifani. Diilhami oleh peraturan Prapaskah, Konsili lokal Macon, Perancis, pada tahun 581 menetapkan bahwa mulai tanggal 11 November (pesta St. Martinus dari Tours) hingga Natal, umat beriman berpuasa pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Lama-kelamaan, praktek serupa menyebar ke Inggris. Di Roma, masa persiapan Adven belum ada hingga abad keenam, dan dipandang sebagai masa persiapan menyambut Natal dengan ikatan pantang puasa yang lebih ringan.

Gereja secara bertahap mulai lebih membakukan perayaan Adven. Buku Doa Misa Gelasian, yang menurut tradisi diterbitkan oleh Paus St. Gelasius I (wafat pada tahun 496), adalah yang pertama menerapkan Liturgi Adven selama lima Hari Minggu. Di kemudian hari, Paus St. Gregorius I (wafat tahun 604) memperkaya liturgi ini dengan menyusun doa-doa, antifon, bacaan-bacaan dan tanggapan. Sekitar abad kesembilan, Gereja menetapkan Minggu Adven Pertama sebagai awal tahun penanggalan Gereja. Dan akhirnya, Paus St. Gregorius VII (wafat tahun 1095) mengurangi jumlah hari Minggu dalam Masa Adven menjadi empat.

Meskipun sejarah Adven agak “kurang jelas”, makna Masa Adven tetap terfokus pada kedatangan Kristus (Adven berasal dari bahasa Latin “adventus”, artinya “datang”). Katekismus Gereja Katolik menekankan makna ganda “kedatangan” ini: “Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua” (no. 524).

Oleh sebab itu, di satu pihak, umat beriman merefleksikan kembali dan didorong untuk merayakan kedatangan Kristus yang pertama ke dalam dunia ini. Kita merenungkan kembali misteri inkarnasi yang agung ketika Kristus merendahkan diri, mengambil rupa manusia, dan masuk dalam dimensi ruang dan waktu guna membebaskan kita dari dosa. Di lain pihak, kita ingat dalam Kredo (Pengakuan Iman) bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan yang mati dan kita harus siap untuk bertemu dengan-Nya.

Suatu cara yang baik dan saleh untuk membantu kita dalam masa persiapan Adven adalah dengan memasang Lingkaran Adven. Lingkaran Adven merupakan suatu lingkaran, tanpa awal dan akhir: jadi kita diajak untuk merenungkan bagaimana kehidupan kita, di sini dan sekarang ini, ikut ambil bagian dalam rencana keselamatan Allah yang kekal dan bagaimana kita berharap dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan kekal di kerajaan surga. Lingkaran Adven terbuat dari tumbuh-tumbuhan segar, sebab Kristus datang guna memberi kita hidup baru melalui sengsara, kematian, dan kebangkitan-Nya.

Tiga batang lilin berwarna ungu melambangkan tobat, persiapan dan kurban; sebatang lilin berwarna merah muda melambangkan hal yang sama, tetapi dengan menekankan Minggu Adven Ketiga, Minggu Gaudate, saat kita bersukacita karena persiapan kita sekarang sudah mendekati akhir. Terang itu sendiri melambangkan Kristus, yang datang ke dalam dunia untuk menghalau kuasa gelap kejahatan dan menunjukkan kepada kita jalan kebenaran. Gerak maju penyalaan lilin setiap hari menunjukkan semakin bertambahnya kesiapan kita untuk berjumpa dengan Kristus. Setiap keluarga sebaiknya memasang satu Lingkaran Adven, menyalakannya saat santap malam bersama dan memanjatkan doa-doa khusus. Kebiasaan ini akan membantu setiap keluarga untuk memfokuskan diri pada makna Natal yang sebenarnya.

Lilin masa adventus

Secara keseluruhan, selama Masa Adven kita berjuang untuk menggenapi apa yang kita daraskan dalam doa pembukaan Kebaktian Minggu Adven Pertama: “Bapa di surga… tambahkanlah kerinduan kami akan Kristus, Juruselamat kami, dan berilah kami kekuatan untuk bertumbuh dalam kasih, agar fajar kedatangan-Nya membuat kami bersukacita atas kehadiran-Nya dan menyambut terang kebenaran-Nya.

Sehubungan dengan itu, Rm Ardi menghimbau umat Paroki Cewonikit untuk janganlah mangkir mengikuti misa pada empat hari Minggu selama masa advent ini.

Redaksi